JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Cerdas dan Tidak Cerdas

OPINI: Cerdas dan Tidak Cerdas

173
BAGIKAN

 

Siswa-siswi SMAN 1 Wonosari Klaten melepas 256 balon, Selasa (09/12/2014) pagi. Acara tersebut dalam rangka memperingati Hari AIDS yang jatuh pada tanggal 1 Desember lalu | Foto: Maksum N F
Ilustrasi: Joglosemar/ Maksum N F

Fatkhurohmah 

Guru SDN Krajan,  Jebres, Surakarta

 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pandangan masyarakat Indonesia terhadap sosok siswa yang cerdas dilihat dari prestasi akademisnya di sekolah.  Ketika seorang siswa mendapat juara I  saat penerimaan rapor, maka dia tergolong siswa yang cerdas. Sedangkan siswa yang tidak naik kelas dijuluki siswa yang bodoh.

Anggapan seperti itu tidak hanya melekat pada masyarakat umum, bahkan di kalangan pendidik pun masih ada yang beranggapan seperti itu. Hal tersebut bisa terjadi karena selama ini pendidikan di Indonesia memang masih terfokus pada ranah kognitif. Akhirnya, siswa akan dipaksa orang tuanya mengikuti berbagai macam bimbingan belajar di luar jam sekolah. Sehingga sebagian besar siswa sering merasakan kelelahan pikiran dan juga fisik akibat waktunya habis untuk belajar, belajar dan belajar lagi. Semua itu dilakukan dengan tujuan agar nilai di sekolah bagus bahkan mendapat juara.

Rasanya sangat tidak adil bagi siswa jika kecerdasan hanya dilihat dari aspek akademis. Siswa yang akademisnya kurang, dianggap kurang memiliki masa depan. Sedangkan siswa yang kemampuan akademiknya bagus dianggap memiliki masa depan cerah. Padahal jika dilihat dan ditelusuri, orang-orang yang sukses dalam karier dan kehidupan di masa dewasa sekarang ini belum tentu saat sekolah dulu memiliki kemampuan akademis yang tinggi.

Beberapa di antaranya bahkan tidak lulus sekolah atau tidak mengenyam bangku sekolah. Sebut saja, Andrie Wongso, yang dewasa ini sangat terkenal sebagai motivator. Beliau adalah orang yang bisa sukses meskipun saat kelas 6 SD terpaksa berhenti sekolah. Contoh yang lain adalah Presiden Indonesia kedua yaitu Bapak Soeharto. Mengutip biografi pak Harto di Wikipedia, Pak Harto hanya mengenyam pendidikan terakhir SMP. Namun, Pak Harto dapat membuktikan bahwa beliau mampu menjadi gerilyawan sukses di balik serangan Umum 1 Maret yang menggetarkan dunia Internasional. Selain itu beliau juga bisa menjadi Presiden Indonesia selama kurang lebih 32 tahun.

Dua contoh di atas menunjukkan bahwa orang yang sukses belum tentu tergantung pada kemampuan akademisnya. Namun, bukan lantas disimpulkan bahwa akademis pada sekolah formal tidak penting. Hanya saja, siswa yang memiliki kemampuan akademis minim tidak harus dipandang sebelah mata oleh guru dan masyarakat.

Setiap siswa pasti memiliki kecerdasan dan kecerdasan tersebut tidak hanya dibatasi pada tes formal/ujian belaka. Menurut Dr Howard Gardner (1993), ada banyak jenis kecerdasan yang bisa digali dari setiap siswa.

Ada siswa yang memiliki kecerdasan bahasa (linguistik), kecerdasan matematis logis (angka dan logika), kecerdasan visual spasial (gambar dan ruang) juga kecerdasan musical (musik). Selain itu, ada juga siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal (bergaul), kecerdasan intrapersonal (memahami diri) dan kecerdasan kinestetis (gerak) serta kecerdasan naturalis (alam). Delapan jenis kecerdasan tersebut terkenal dengan sebutan kecerdasan majemuk atau biasa disebut Multiple Intelligences (MI).

Begitu banyaknya jenis kecerdasan yang dimiliki siswa sehingga sebenarnya kurang pantas jika siswa cerdas hanya dipandang dari segi akademis. Namun apa daya, sistem pendidikan formal di Indonesia menuntut siswa untuk bisa memiliki kecerdasan akademis yang tinggi sehingga bisa lulus Ujian Sekolah/Nasional. Di sinilah terasa pentingnya peran guru, masyarakat (orangtua) dan pemerintah untuk memperhatikan kebutuhan siswa dalam meningkatkan kemampuan akademis mereka.

Di beberapa sekolah swasta favorit di Indonesia (terutama tingkat SD), pihak sekolah sudah banyak yang menerapkan kerja sama dengan psikolog untuk mengetahui minat belajar dan jenis kecerdasan siswa. Hal itu sangat baik karena guru dapat memahami gaya belajar siswa sehingga siswa akan mudah memahami pelajaran yang disampaikan guru.

Misalnya, pada siswa yang memiliki kecerdasan musikal, materi bisa dikaitkan dengan ritme lagu yang mudah diingat oleh siswa tersebut. Hasilnya, siswa tersebut akan lebih bisa menguasai materi karena dia tertarik dan suka dengan ritme lagu. Pada siswa yang memiliki kecerdasan visual spasial ( tertarik pada gambar, warna atau hal yang berkaitan dengan melukis) bisa diajari materi pelajaran dikaitkan dengan lukisan.

Misalnya, belajar matematika dengan melukis angka-angka perkalian, pembagian bahkan akar dan pangkat pada kertas berjajar di dinding kelas. Hal tersebut tentu akan meningkatkan motivasi belajar sehingga kemampuan akademisnya akan meningkat. Contoh yang lainnya lagi, pada siswa yang memiliki kecerdasan kinestetis (yang biasanya siswa selalu gerak, tidak bisa diam dan pada masyarakat awam sering dianggap hiperaktif bahkan pembuat onar), materi bisa diajarkan dengan bermain peran.

Dengan demikian, siswa akan menyalurkan kelebihan energi geraknya untuk memperdalam materi pelajaran sehingga kemampuan akademisnya akan meningkat. Untuk siswa yang memiliki kecerdasan naturalis (alam), guru bisa mengajak siswa belajar di luar kelas, sehingga siswa lebih nyaman dalam belajar. Begitu pula untuk anak yang memiliki kecerdasan lain, gaya belajar untuk meningkatkan kemampuan akademis bisa disesuaikan dengan kecerdasan yang dimilikinya.

Memahami gaya belajar setiap siswa memang bukan hal yang mudah bagi guru. Perlu kerja keras dan kerja cerdas semua pihak untuk mewujudkannya. Langkah pertama perlu dilakukan analisis  terlebih dahulu pada setiap siswa untuk mengetahui kecenderungan kecerdasannya dengan tes psikologis Multiple Intelligences (MI).

Untuk melakukan tes inilah yang masih sangat jarang dilakukan di sekolah-sekolah terutama sekolah negeri. Hal tersebut bisa terjadi karena faktor biaya yang mahal dan waktu yang cukup lama, juga faktor ketidaktahuan guru mengenai Multiple Intelligences (MI).

Oleh karena itu, pemerintah perlu menggalakkan seminar dan pelatihan guru mengenai Multiple Intelligences (MI) ini serta memfasilitasi terlaksananya tes psikologis untuk setiap siswa. Tidak bisa dinafikan bahwa banyak guru terutama guru SD negeri yang belum memahami teori Multiple Intelligences (MI) ini. Sedangkan untuk guru sekolah swasta (terutama sekolah favorit) cukup banyak yang lebih memahami karena pihak sekolah swasta lebih sering mengadakan seminar/pelatihan. Tentu sekolah swasta lebih mandiri dalam hal biaya.

Seandainya memang pemerintah belum bisa mewujudkannya, minimal guru memperbanyak ilmu tentang Multiple Intelligences (MI) melalui internet, membaca buku-buku tentang Multiple Intelligences (MI) dan mengikuti seminar-seminar umum tentang Multiple Intelligences (MI) yang diadakan universitas/ lembaga pendidikan tertentu. Sedikit ilmu yang didapat, ditularkan kepada guru lain dan diterapkan di sekolah.

Mendapat ilmu lagi, ditularkan lagi dan diterapkan lagi, begitu seterusnya. Seandainya guru-guru bisa melakukannya, yaitu memahami jenis kecerdasan siswa untuk meningkatkan kemampuan akademis siswa yang lemah dengan gaya belajar yang sesuai, niscaya pendidikan di Indonesia akan lebih meningkat. Oleh karena itu, marilah kita mulai dari diri sendiri. Selamat memahami jenis kecerdasan siswa!