JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Guru  Petualang

OPINI: Guru  Petualang

102
Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo MEMBUAT BATIK JUMPUTAN--Sejumlah siswa kelas IV SD Pangudi Luhur Solo menjumput kain saat mengikuti workshop pembuatan batik jumputan di sekolah mereka, Rabu (13/3).
Ilustrasi | Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

Dimas Wihandoko

Guru PNS di SD Negeri 01 Bolon Kecamatan Colomadu

Kabupaten  Karanganyar

Adventure, kosa kata (asing) yang sepertinya sangat terbiasa terdengar di telinga, yang memiliki arti adalah sesuatu pengalaman yang menarik, suatu perbuatan yang berani dan berisiko, perjalanan yang menantang, sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang hebat, sesuatu yang mengejutkan dan di luar perkiraan, perubahan dalam kehidupan atau suatu hal baru yang tidak terjadi setiap hari (definisi : Wikipedia).

Dalam beberapa waktu terakhir kata adventure makin familier,  terlebih semenjak ada sebuah tayangan di salah satu televisi swasta yang menampilkan my trip my adventure sebuah perjalanan oleh para lakon televisi ke berbagai daerah di belahan Indonesia, dan alhasil tayangan ini sepertinya telah mampu menghipnotis para  generasi muda untuk turut ber “advanture” ria.

Meskipun terkadang destinasinya tak sejauh layaknya di televisi, dan bekal juga tak setebal para lakonnya, namun  semangat generasi muda seakan tak pernah redup untuk melakukan petualangan yang mungkin hanya untuk kepuasan diri berbangga hati, berfoto selfie  dengan kaos bertulisan layaknya di televisi.

Sekelumit dari paparan paragraf  di atas seakan menginterpretasikan kepada kita bahwa petualangan itu erat kaitan dengan suatu kegiatan yang menarik dan penuh kesenangan, tantangan dan tujuannya adalah kepuasan.

Tentunya siapa pun berhak untuk melakukan petualangan, asalkan sang petualang memiliki modal, baik modal jasmani rohani meliputi kesehatan fisik dan mental maupun materi yang berhubungan dengan finansial. Maka berdasar prinsip-prinsip tersebut maka petualangan dapat pula dilakukan oleh seorang guru dengan destinasi edukasi dan lakon utama petualangnya adalah guru. ya..guru sang petualang “ilmu”, terdengar sederhana namun sarat makna, menjadi guru petualang tentunya berbeda dengan polah tingkah petualang di televisi, karena keterkaitannya adalah masalah destinasi atau tujuan petualangan.

Akhir pekan atau pada musim liburan adalah moment yang paling tepat bagi guru untuk berpetualang, karena telah diketahui bersama  profesi guru memikul amanah dan tanggung jawab yang cukup menyita waktu, akan tetapi,  tiada salah mengalokasikan waktu untuk sejenak keluar dari rutinitas dan bereksplorasi dengan bertualang, namun satu hal yang harus digaris bawahi adalah hendaknya petualangan yang akan dilakukan oleh guru bukan merupakan petualangan biasa, dan inilah yang menjadi pedoman bagi guru yang ingin bertualang, beberapa hal yang mungkin dapat menjadi pertimbangan adalah pertama Petualangan yang dilakukan seorang guru semestinya memiliki misi, bukan untuk sekedar pamer aksi dan selfie memajang foto diri di media sosial.

Pertimbangan yang kedua adalah petualangan oleh guru tidak harus mahal dan memerlukan banyak modal finansial, cukup sehat jasmani didukung kesehatan mental, berkunjung ke tempat – tempat yang mudah terjangkau dan tidak banyak menghabiskan waktu dapat menjadi pilihan, tujuannya pun dapat beragam tidak melulu ke tempat berpemandangan alam, pilihan tujuan bisa juga ke kantor perusahaan, atau ke taman kota, tempat cagar budaya dan dapat pula berkunjung ke sekolah lain untuk melakukan studi perbandingan pengelolaan kegiatan pembelajaran, maka semakin sering guru melakukan petualangan, dapat memberikan banyak pengalaman menarik tersendiri bagi guru.

Pertimbangan petualangan berikutnya adalah hasil petualangan guru dapat memberikan inspirasi dan wawasan, semua apa yang lihat dan diperoleh guru selama dalam perjalanan serta segenap pengalaman dapat dijadikan “oleh-oleh” tersendiri bagi siswa dengan membawanya masuk  ke dalam kelas, dengan misi membuka cakrawala pengetahuan , dapat pula menjadi pengantar atau intro dalam pembelajaran mengajak siswa mengelaborasi, mengeksplorasi dan bertukar informasi yang memilki relevansi dengan materi yang sedang dipelajari. Seperti yang diungkapkan oleh William Arthur ward mengenai empat karakter  guru yang sesuai dengan etika dan profesi kependidikan, diantaranya The mediocre teacher tells,( guru biasa memberitahu), Good teacher explains ( guru mampu untuk menjelaskan ), Superior teacher demonstrates ( guru ulung dalam mendemonstrasikan ) dan yang terakhir Great teacher inspires (  guru mampu untuk menjadi inspirasi ). Dari keempat karakter tersebut disampaikan bahwa guru mampu untuk menginspirasi yang artinya  guru mempunyai kewajiban untuk menjadi inspirator bagi murid-muridnya. Dalam pengajaran sangat penting bagi guru untuk mampu menjadi inspirasi murid dalam pembelajaran dan dalam penumbuh kembangan  murid agar dalam prosesnya efektif dan menjadi sebuah pembelajaran dalam suatu pengalaman.

Kekayaan wawasan dan pengalaman guru yang diperoleh  dari petualangan dapat disampaikan dalam bentuk cerita menarik oleh guru, sehingga diharapkan ditemukan hal yang inspiratif bagi siswa  dan dapat menginspirasi siswa, yang nantinya bisa menjadi bekal siswa untuk perjalanan hidup mereka yang akan datang,  harapan lain dari cerita guru sang petualang adalah menjauhkan siswa dari kejenuhan dengan pemberian materi ajar yang kaku dan monoton.

Manfaat lain yang didapat adalah bertambahnya khasanah metode guru dalam mengajar, tidak lagi terjebak dalam rutinitas normatif. Yang dapat menyebabkan berkurangnya semangat kerja guru sehingga berdampak pada pelayanan pembelajaran untuk siswa.

Maka, selagi ada kesempatan dan modal kesehatan, serta sedikit finansial, tanpa harus terpaku pada tujuan yang jauh dan mahal, dengan sekedar memilih tempat yang terjangkau namun bisa menjadi bekal mengajar, tiada salah bagi seorang guru mencari waktu yang tepat untuk mengusir kejenuhan dengan tujuan memperdalam ilmu pengetahuan dan menambah pengalaman namun tetap pada misi pendidikan, bak pepatah sambil menyelam minum air, luangkan waktu dan energi, langkahkan kaki ke suasana baru, dengan dasar ikhlas hati berpetualang untuk siswa yang telah menanti cerita dari sang guru petualang.

BAGIKAN