JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Memaknai Hari Jadi Polwan  

OPINI: Memaknai Hari Jadi Polwan  

152
BAGIKAN
Tim Srikandi Polres Klaten  | Joglosemar/Dani Prima
Tim Srikandi Polres Klaten | Joglosemar/Dani Prima

AKP Hastin Marhadjanti

Kanit PPA Polresta Surakarta

 

Tanggal 1 September 2015 kemarin, Polisi Wanita (Polwan) Indonesia memperingati hari lahirnya yang ke-67. Sudah  67 tahun lamanya  Polwan menapaki tantangan, rintangan pelindung, pengayom, pelayan dan sebagai penegak hukum.

Momen HUT Polwan ini pun telah menambah kedewasaan usia Polwan, sekaligus untuk merefleksi diri, apa yang sudah diperbuat selama ini untuk masyarakat dan negara. Pada era globalisasi ini Polri dituntut mengedepankan kedewasaan dan kualitas intelektual dalam menegakkan hukum. Tak terkecuali Polwan.

Sebagai penegak hukum dan penjaga Kamtibmas, diharapkan ada kerja sama kedua pihak, masyarakat dengan aparat Polisi. Kesadaran hukum dan sikap tertib masyarakat sebagian besar tergantung sejauh mana kewibawaan Kepolisian.

Kehadiran Polwan tidak hanya melengkapi formasi di tubuh Polri, tetapi juga merupakan suatu kebutuhan. Pada skala makro merupakan wujud pengakuan atas persamaan hak antara pria dan wanita, termasuk dalam profesi Polisi.

Peran Polwan di era informasi ini tak kalah pentingnya  dibanding polisi laki-laki. Tanggung jawab yang harus diemban adalah melaksanakan tugas dengan didasari pemikiran yang matang sejak perencanaan sampai evaluasi pelaksanaan tugas. Di tengah masyarakat yang semakin terbuka, Polwan mestinya juga bersikap terbuka terhadap informasi-informasi baru.

Seiring tema HUT ke-67 Polwan  “Polwan siap sebagai pelopor revolusi mental dalam rangka memantapkan soliditas dan profesionalisme Polri“,  tentunya Polwan sudah harus siap dengan segala risiko dan rela mengorbankan tenaga dan waktunya demi tugas negara. Kehidupan yang keras, disiplin, bertanggung jawab, mampu menjaga emosi dan mental dalam segala suasana adalah mutlak  dijalani.

Sebagai anggota Polri, Polwan diharapkan  lebih meningkatkan profesionalitas kinerjanya sesuai instruksi pimpinan. Pekerjaan yang profesional memang memerlukan ketekunan atau kecermatan yang dilandasi dengan kecintaan terhadap tugasnya.

Untuk dapat memberikan pengabdian yang tinggi, setiap individu Polwan harus mengetahui apa yang diharapkan dari dirinya. Untuk itu setiap Polwan harus dapat mengembangkan potensi dirinya agar sumbangannya dapat semakin besar dan berarti. Pada momen-momen tertentu Pemimpin perlu membantu dan memotivasi Polwan. Bimbingan itu sebagai usaha pengembangan pribadi Polwan.

 

Kilas Balik Polwan

Sejarah Polwan di Indonesia dimulai pada 1 September 1948. Ketika itu, di Bukittinggi, Sumatera Barat, pemerintah Indonesia tengah berjuang menghadapi agresi militer II Belanda. Akibatnya terjadi arus pengungsian di mana-mana. Pria, wanita, anak-anak meninggalkan rumah untuk menjauhi titik-titik peperangan.
Ketika memasuki wilayah yang dikuasai Republik, tentu harus ada penggeledahan untuk memastikan tidak ada penyusup. Masalahnya, banyak pengungsi perempuan menolak diperiksa polisi pria.

Pemerintah lalu menunjuk Sekolah Polisi Negara di Bukittinggi untuk mulai merekrut polisi wanita. Atas dasar itulah, Polri membuka “pendidikan inspektur polisi” bagi kaum wanita. Sejak itulah, Polwan menjadi bagian dari Kepolisian RI.
Tahun terus berganti, tantangan Polwan terus berubah.
Dilihat dari sejarahnya, perjuangan Polwan bukannya tanpa rintangan. Namun karena kehadiran Polwan sangat dibutuhkan masyarakat, perjuangan tersebut mendapatkan dukungan dari semua pihak, hingga pada 1 September diperingati sebagai tanggal lahir Polisi Wanita,  yang akrab dengan sebutan “Esthi Bhakti Warap Sari“ atau wanita-wanita pilihan.

Untuk memperingati Hari jadi Polwan kali ini, beberapa rangkaian kegiatan dilakukan oleh Polwan se-Indonesia, seperti anjangsana dengan mengunjungi Polwan yang sedang terkena musibah (sakit) dan juga kepada senior/sesepuh Polwan yang bertempat tinggal di wilayah masing-masing.

Dilakukan pula kegiatan Bakti sosial Polwan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Puncak acara pada tanggal 1 September 2015 diresmikan pemugaran Monumen Polwan oleh Kapolri beserta Ibu Asuh Polwan di Bukittinggi Sumatera Barat yang dihadiri perwakilan Polwan Mabes dan Polda.

 

Kelembutan Polwan

Hadirnya Polwan dalam jajaran Polri dapat mengubah wajah Kepolisian  dari yang bersifat keras menjadi bergaya lembut. Karenanya, tepat jika Polwan ditempatkan pada bidang khusus, yaitu menangani penyimpangan remaja dan kasus yang melibatkan wanita, baik sebagai pelaku atau korban kejahatan. Polwan juga sering diberi tugas menangani kekerasan dalam rumah tangga (family violence). Dalam penanganan kasus demikian, Polwan akan memandangnya sebagai peristiwa yang serius dibanding Polisi pria. Gaya lembut oleh Polwan diterapkan juga dalam menyidik kasus perkosaan. Pemeriksaan dilakukan dalam suasana kekeluargaan yang dialogis. Pendampingan seorang Polwan penting karena akan dapat menambah rasa percaya diri  korban. Di samping itu peran Polwan dalam menangani kejahatan yang dilakukan anak-anak sangat diperlukan.

Dengan sifatnya yang lemah lembut, Polwan dapat menggali keterangan dari pelaku anak. Dengan kelembutan yang dimilikinya Polwan mampu meredam kemarahan para pengunjuk rasa dan menjadi penengah antara aparat kepolisian dengan demonstran untuk menyampaikan pendapatnya. Yang tidak kalah penting, Polwan cukup efektif membantu mengatur lalu lintas, termasuk menangani peristiwa kecelakaan lalu lintas di jalan raya.

Melalui model pendekatan feminim (ladies policing) dengan menempatkan Polwan di jalan raya, diharapkan para pengguna jalan tergugah hatinya untuk lebih bersikap tertib, santun dan patuh terhadap peraturan lalu lintas. Namun demikian, di balik sikap lembut yang melekat pada Polwan, tetap diperlukan sikap tegas untuk menindak semua pelanggar.

Hal lain yang perlu ditingkatkan adalah pengembangan karier bagi Polwan itu sendiri, misalnya dengan membuka kesempatan menempuh pendidikan kepolisian yang lebih tinggi hingga ke luar negeri. Oleh karena itu Polwan tetap harus mengutamakan kualitas, kemampuan dan rasa tanggung jawab dengan harapan Polwan akan menjadi lebih baik di masa mendatang.

Sekarang ini Polri berkonsentrasi mendukung tugas pengamanan pemilihan Kepala Daerah ( pilkada ) yang akan dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia. Untuk itu Polwan dilibatkan penuh dalam pengamanan Pilkada demi tetap menjaga kondusivitas wilayah. Ketulusan para Polwan menjadi pelayan masyarakat dengan penuh rasa empati dan selalu mengedepankan senyum, salam dan sapa, mampu menciptakan hubungan kemitraan yang harmonis antara Polri dengan masyarakat.

Di usia yang ke-67, Polwan semakin dirasakan kontribusinya bagi organisasi Polri dan masyarakat. Sebuah harapan bagi Polwan ke depan untuk memperbaiki citra Polri, mengangkat derajat kaum wanita sekaligus menjadi ibu rumah tangga yang baik dan menjadi hamba Allah yang taat beribadah.

Demi kebaikan Polwan ke depan, kritiklah Polwan tanpa membedakan gender dengan ketulusan hati dan sikap konstruktif. Harapan Polwan yang paling sederhana adalah menjadi Bhayangkara Negara yang berwibawa, dipercaya dan dicintai masyarakat secara utuh. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan perlindungan pada Polwan pada khususnya dan Polri pada umumnya dalam mengemban tugas mulia bagi bangsa dan negara tercinta ini.  Dirgahayu Polisi Wanitaku, semangatmu tak akan pernah surut seiring doa-doamu pada Allah SWT sebagai sumber kekuatan dan sandaran hidupmu.