JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Memperlakukan Media Sosial

OPINI: Memperlakukan Media Sosial

177
BAGIKAN

Trisno Yulianto

PNS di Bapermas Magetan, Warga Puro Asri Sragen

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi akhirnya melaporkan seorang pemilik akun Facebook bernama Arif Kusnandar ke Bareskrim Mabes Polri (Joglosemar, 27 Agustus 2015). Laporan tersebut didasarkan oleh “ancaman” yang dilontarkan Arif Kusnandar melalui status Facebook tanggal 22 Agustus 2015. Arif Kusnandar mengancam akan memburu dan membunuh etnik Tionghoa termasuk Ahok jika krisis moneter terjadi tahun 2015.

Langkah pemerintah dalam hal ini Kemenkominfo merupakan sikap dan tindakan yang bijak yang berdimensi hukum dan politik. Dari sudut pandang hukum, tindakan Arif Kusnandar jelas melanggar UU ITE dan UU HAM. Arif Kusnandar juga tersangkut tindak pidana umum (kriminal) karena secara langsung mengancam kelompok masyarakat yang merupakan bagian dari warga negara republik ini.

Perbuatan melanggar hukum yang dilakukan Arif Kusnandar yang menyebarkan kebencian bersentimen Rasial dan agama, harus diakui juga sering dilakukan oleh para pengguna Media Sosial yang lain. Banyak oknum media sosial dengan tendensi ideologi dan sikap sektarian sering mengumbar pernyataan yang mengancam dan menistakan kelompok masyarakat yang berbeda preferensi ideologi, keyakinan agama dan latar genetik etnik.

Mereka adalah oknum-oknum pengguna media sosial yang tidak paham fungsi sosial Media Sosial dalam membangun ikatan solidaritas dan sikap yang toleran. Media Sosial ditempatkan sebagai alat kepentingan politik propaganda yang sangat subjektif dan tendensius, sehingga mengabaikan etika kemanusiaan dan moralitas kebangsaan.

Media Sosial ketika dihadirkan dalam jagat teknologi Informasi diharapkan akan menjadi perekat nilai keadilan, kesetaraan dan kemanusiaan. Media Sosial menjadi sarana komunikasi yang egaliter dan privat. Media Sosial menjadi instrumen publik ketika dijadikan media penyebar gagasan untuk kemuliaan aspirasi dan kepentingan masyarakat.

Media sosial bukan produk Jurnalisme profesional. Namun Media sosial yang dijadikan bagian dari Jurnalisme profesional memiliki standar yang tegas, jelas dan sesuai kaidah. Namun banyak kelompok yang menempatkan media sosial sebagai alat kepentingan subjektif/kelompok. Yang tujuannya untuk memaksakan gagasan subjektifnya menjadi kebenaran umum yang dianut oleh komunitas pengguna media sosial yang lain.

Kecenderungan disfungsi media sosial (Medsos) yang kini marak terjadi bisa dipetakan menjadi beberapa hal: Pertama, Media Sosial menjadi propaganda hitam atau propaganda ideologi yang menafikan semangat konstitusi. Kelompok berpaham radikal keagamaan dan sektarian sering menjadikan media sosial untuk menyebarluaskan ego kebencian pada kelompok masyarakat yang tidak berada dalam satu haluan ideologi.

Kedua, Media sosial menjadi alat kejahatan. Baik dari kejahatan kriminalitas murni seperti penculikan, pemerkosaan, penipuan sampai kejahatan politik kriminal. Yakni dengan melakukan upaya fitnah berlatar belakang politik yang sesungguhnya kategori perbuatannya melanggar hukum pidana umum.

Ketiga, Media sosial menjadi alat Niaga yang dipaksakan. Media sosial menjadi alat niaga yang dipaksakan disebarluaskan melalui jejaring akun Medsos yang sebenarnya bersifat pribadi. Media Sosial dalam konteks demikian terdegradasi menjadi media komersial dan bukannya media sosial untuk kepentingan publik.

Media sosial dalam masyarakat yang terbuka saat ini harusnya digunakan dengan baik dan benar untuk kepentingan kebajikan masyarakat. Media sosial memiliki dimensi etik dan norma falsafi yang
harusnya dipatuhi oleh para penggunanya. Dimensi etik dan norma sosial antara lain: larangan menyebarkan sentimen SARA, menciptakan isu dan fitnah bertendensi provokasi antar kelompok masyarakat, dan dijadikan sarana propaganda ideologis yang cenderung pada aksi kekerasan apalagi
terorisme.

Media sosial sendiri menjadi sarana untuk mengungkapkan gagasan tentang persoalan pribadi, kelompok dan bahkan bangsa. Para pengguna akun media sosial, sangat paham bahwa media sosial ada di ruang publik dan idealnya menawarkan sebuah konsep perdamaian, toleransi dan keadilan. Media sosial tidak seharusnya menjadi ajang menuangkan pikiran “sampah” yang penuh dengan sikap kebencian terhadap komponen masyarakat yang lain.

Contoh aktual ‘sampah” Media sosial yang dipergunakan tidak berdasarkan etika adalah berbagai status kebencian berlatar belakang rivalitas Pilpres 2014. Saat pelaksana Pilpres di media sosial
bertebaran kalimat hujatan, mendeskreditkan bahkan fitnah terhadap calon presiden tertentu. Media sosial menjadi mesin kampanye hitam yang ironisnya dipercaya materi kebenarannya oleh banyak pengguna media sosial sampai sekarang ini. Dalam analisa wacana (discourse
analysis) tentang banyak status atau pernyataan di Media Sosial (Facebook, twitter, Blog) dari para pengguna (users) media sosial yang masih nyinyir dan dibalut kebencian tidak rasional terhadap pemerintahan terpilih. bagi mereka apa yang dilakukan pemerintah salah dan buruk.

Hal inilah yang disebut ketidakdewasaan dalam menggunakan media sosial. Media sosial yang idealnya menjadi sarana komunikasi yang baik, rekreasi dalam jalinan relasi kesekawanan dan juga mengabarkan gagasan yang reformulatif tentang masalah sosial-masyarakat justru menjadi alat perusak jalinan solidaritas dan toleransi.

Dampak sosiologisnya adalah pembelahan kesadaran masyarakat untuk bersatu, bekerja sama dan bergotong royong. Masyarakat terbelah dalam kesadaran yang antipati dan sektarianistik. Masyarakat mudah terjebak agresi dalam emosi ketidaksukaan terhadap tokoh tanpa analisa rekam jejak dan mudah tersulut ego kebencian pada suatu kelompok dalam kasus sosial tertentu.

Media sosial sesuai khittahnya memang harusnya menjadi perekat silaturahmi dan bukan pengungkit perpecahan antar kelompok sosial yang lazimnya terikat dalam visi kehidupan bermasyarakat yang saling menghormati dan melindungi.  Media sosial merupakan instrumen
komunikasi sosial yang netral, namun sikap penggunaannya menentukan dimensi kemaslahatan media sosial.

Melalui media sosial bisa terbangun perdamaian dan sebaliknya bisa tercipta permusuhan. Dengan media sosial bisa dimiliki banyak sahabat namun bisa sebaliknya menciptakan banyak musuh yang berbeda orientasi dan kepentingan. Media sosial bisa mencerdaskan dan memerahkan logika berpikir namun di sisi lain bisa menyesatkan jika digunakan untuk kepentingan politik yang sektarian. jadikan media sosial penyebar damai dan bukan kebencian. Damai lebih indah dan mulia untuk membangun komunikasi interpersonal dan kerja sama yang setara . Semoga