OPINI: Mendongeng di Tengah Hiruk Pikuk

OPINI: Mendongeng di Tengah Hiruk Pikuk

156
LOMBA DONGENG-Salah seorang peserta lomba dongeng menampilkan kemampuan mendongengnya yang diselenggarakan pada rangkaian acara HUT SD Al-Firdaus yang ke-14 dan Yayasan Al- Firdaus yang ke-16 di sekolah setempat, Selasa (26/2). Joglosemar/Yuhan Perdana
Ilustrasi: Joglosemar/Yuhan Perdana

Setyaningsih

Bergiat di Bilik Literasi Solo

 

Anak-anak menunggu. Barangkali, akan datang buku-buku dan dongeng-dongeng yang membawa para tokoh imajiner menyapa dan tidak cuma mewaktu dalam sepuluh menit saja. Namun, mendongeng sepuluh menit memang telah dicanangkan Kementerian Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan sejak Mei 2015.

Pada tanggal 29 Mei 2015, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan mendongeng di hadapan anak-anak sebagai resolusi membaca,  “Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita untuk Anak” (Kompas, 30 Mei 2015). Orang tua dan guru harus sadar buku,  agar anak-anak bisa menjadi pembawa risalah baca dan buku.

Pada tahun ajaran baru 2015-2016, Menteri  Anies Baswedan menegaskan, semaian budi pekerti lewat 15 menit membaca buku bukan pelajaran sebelum pembelajaran, terangkum dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015. Buku dan cerita memang bukan peristiwa alamiah layaknya bernafas, makan, atau minum yang tanpa berpikir sekalipun. Peristiwa terlakoni dalam hari-hari kita.

Rumah dan sekolah membutuhkan aturan agar literasi jadi keteraturan. Kita pun mengingat, pelbagai acara pelatihan atau gerakan minat baca-tulis lebih mirip penyuluhan. Penyelenggara adalah lembaga-lembaga prestisius, mengundang kaum-kaum bergelar dan dipastikan berbiaya mahal. Pun, mereka latah dengan memilih tempat-tempat mentereng yang justru jauh dari keakraban buku.

Apa arti sepuluh menit atau lima belas menit bagi Indonesia, baik orang tua, anak, guru, sekolah, dan buku  di saat televisi memiliki kedigdayaan memutar acara dangdut selama berjam-jam? Ketika  kotak ajaib itu menampilkan sinetron selama dua jam lebih setiap hari, dan setiap saluran  memutar kartun setiap sore hari? Apa artinya pula sepuluh menit ketika televisi  menampilkan acara mendengar gosip setiap pagi.

Menit-menit pendek itu seperti menyalakan lilin di tengah lapangan yang dipenuhi orang-orang kedinginan dan merindukan cahaya literasi. Hitungan menit adalah harga yang amat mahal sekaligus arogan demi jeda menuju penjelajahan aksara dan buku-buku yang terasa masih asing.

Baca Juga :  Mengukir Diri, Mengabdi Pada Negeri: Refleksi Akreditasi “A” bagi UMS

“Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita untuk Anak” meski berlabel pemerintah dan bakal disokong oleh sejumlah lokakarya, tampak sulit menjadi sebuah ketetapan diri. Kita masih akan menunggu bagaimana guru bertaruh untuk mau membaca, menyisihkan gaji untuk belanja buku, dan berani menambah anggaran untuk menghidupkan perpustakaan demi lima belas menit bersama bercerita. Guru yang sejak awal tidak akrab dengan buku dan cerita, merasa tidak siap menjadi pencerita karena terlanjur terikat pada buku pelajaran yang kerap jadi buku wajib selama bertahun-tahun.

Pada diri orangtua, kita sering dipaksa maklum untuk memahami kesibukan kerja demi keberlangsungan hidup keluarga. Sedang sisa waktu yang ada selalu merujuk pada kehidupan berhiburan, bersosialisasi dan berlibur. Berliterasi sering tidak masuk dalam peristiwa spontanitas. Dalam biografi berkeluarga, liburan ke perpustakaan sering jadi keanehan. Buku juga sering sulit menjadi sebentuk hadiah kecil dalam kehidupan dan pamornya kalah dengan gawai atau sabak elektronik. Bahkan, gawai lebih di-gadang sebagai teman agar anak masa kini tidak rewel.

Pada mulanya, literasi kentara membawa keterlibatan orangtua untuk menentukan bacaan apa yang patut memenuhi kebutuhan imajinatif anak. Bacaan mengasuh dan mengasah dengan penuh kasih. Dulu, pernah terbit majalah anak Si Kuncung sebagai sarana anak berliterasi. Keberadaan majalah ini tidak mengabaikan orang tua sebagai pelaku utama pengasuhan anak. Di Si Kuncung edisi No. 1 Th.XVIII (1974) memuat komentar orang tua mengenai majalah yang selama ini telah menjadi bagian dari keluarga.

Seorang ibu bernama Painah Chambari yang bertempat tinggal  di Jalan Panjaitan 45 b Banjarnegara-Banyumas berkomentar, “Setelah saya mengenal Si Kuncung, maka tergugah rasanya menanggapi isinya. Bermanfaat dan menambah pengertian. Mempermudah memberikan pendidikan serta contoh yang baik dan bermanfaat.” Bahkan, Ny Painah mengaku bahwa Si Kuncung, “dapat menyegarkan kembali pikiran yang kalut setelah sehari-hari kerja keras mengurus rumah tangga.” Literasi adalah selebrasi bersama antara orangtua dan anak untuk bertemu para tokoh imajiner di tempat-tempat imajiner.

Baca Juga :  Sekolah Inklusi Gender

Melodius

Di zaman lawas juga pernah terbit buku cerita untuk guru dan anak kelas III Sekolah Rendah. Buku berjudul Tjeritera Goeroe (2603) tersebut diterbitkan oleh Kantor Pengadjaran, Djakarta. Ada kesengajaan menyediakan waktu dan buku khusus agar guru tidak mengalami kemiskinan cerita.

Pada pengantar buku tertulis, “pada tiap-tiap kelas disediakan waktoe jang semata-mata oentoek bertjeritera. Isi tjeritera itoe sedapat-dapatnja tentoelah jang terhoeboeng dengan boedi pekerti. Karena banjak kali kita bertjeritera dalam setahoen, kadang-kadang kita kehabisan tjeritera. Lagi poela banjak kali terambil tjeritera-tjeritera jang isinja bersifat lain dari pada jang dimaksoed, jaitoe memperhaloes boedi pekerti.”

Buku Tjeritera Goeroe menghimpun banyak cerita seperti, “Teladan jang Baik”, “Soerat dari Soerga”, “Si Aboe jang Baik Boedi”, “Seorang Pertapa dengan Padi” dan cerita-cerita lain. Cerita tidak memiliki kehendak memerintah atau menakuti, tapi lebih kepada mengasuh. Olah rasa, kepekaan batin, mentalitas, kejelian pikir tercipta lewat cerita-cerita yang menakjubkan. Pemerintah yang tengah dipusingkan dengan pendidikan karakter, mestinya sadar untuk semakin mencipta waktu bercerita, bukan hanya mengganti kurikulum yang sering melelahkan.

Ki Hadjar Dewantara dalam buku Pendidikan (1962) mengatakan bahwa cerita, bahasa, dan lagu adalah bagian dari pengajaran seni. Guru tidak hanya membacakan, tapi juga mengarang cerita yang menarik hati kanak-kanak agar bisa dipraktekkan sebagai tonil atau wayang. Literasi melibatkan gerak karena diiringi tari, lagu, serta suara alat musik. Ada literasi yang musikal dan melodius untuk memantik keterlibatan anak dalam cerita.

Sepuluh menit ditambah lima belas menit bercerita adalah keakraban dan kasih sayang mulut manusia dalam pertemuan imajinatif. Dan dunia pendidikan dan pengajaran tengah kehilangan peristiwa ini. Kita merindukannya sekarang meski belum tentu bisa berhasil mencipta literasi sebagai peristiwa harian, apalagi memukau tubuh untuk meneruskan memori berliterasi menuju masa-masa di depan.

BAGIKAN