JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Pendidikan Keberagaman

OPINI: Pendidikan Keberagaman

389
Ilustrasi
Ilustrasi

Kurniawan Adi Santoso

Guru SDN Sidorejo, Sidoarjo,

Anggota IGI Soloraya

 

Sudah 70 tahun negara kita merdeka. Namun, bangsa ini masih dirundung permasalahan, terutama masalah yang mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa. Indonesia sebagai negara multikultural (beragam budaya) sering dilanda konflik terkait suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Selama ini konflik SARA menelan korban materi dan nyawa, bahkan bisa mengarah pada disintegrasi bangsa. Maka dari itu, kita harus merawat kemajemukan Indonesia.

Kita tahu benih-benih konflik dalam masyarakat majemuk sangat kompleks. Di antaranya, karakateristik dasar masyarakatnya. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, meski kehidupan masyarakatnya berdampingan secara fisik, tetapi sesungguhnya mereka terpisahkan oleh perbedaan-perbedaan identitas sosial yang melekat pada diri mereka masing-masing, serta tidak tergabungnya dalam satu unit politik tertentu (Furnifall, 1940).

Karena terdapat perbedaan itulah melekat potensi konflik yang tersembunyi (covert conflict). Konflik itu muncul seiring berkembangnya etnosentrisme dan primordialisme sempit serta meningkatnya fanatisme golongan yang memerosotkan sikap pluralisme yang inklusif dan toleransi. Akibatnya membuat surut kualitas kerukunan hidup bermasyarakat.

Bila dicermati juga, proses pendidikan kita yang terlalu menekankan perkembangan kognitif berbuah panjang hingga saat ini. Orientasi kepada hasil yang ditandai dengan nilai ujian seakan harga mati dan selalu tak berbanding lurus dengan pengembangan kapasitas emosi siswa. Sehingga lulusannya memiliki bias pikir dan bias rasa yang tak seimbang.

Singkat kata, proses pendidikan yang tak seimbang antara pikir dan rasa inilah salah satu ujung petaka kemanusiaan di Indonesia. Budaya masyarakat Indonesia yang hidup hormat-menghormati pupus oleh begitu banyaknya penyimpangan perilaku tak berkeadaban. Lebih parah prasangka atas nama agama dan suku bangsa yang berujung pada tawuran antarwarga.

Sudah jelas, bangsa ini butuh budaya menghargai dan menjunjung tinggi keragaman budaya, etnis, suku dan agama. Sebagai negara kepulauan dengan penduduk yang besar dan beragam, perlu dihadapi dengan kepribadian yang kuat dari setiap individu warga bangsa. Kita memerlukan solusi cerdas lewat pendidikan untuk membudayakan karakter santun, ramah, dan saling menghargai.

Oleh sebab itu, pendidikan keberagaman dinilai penting untuk diajarkan di sekolah secara masif. Seperti kita tahu, pendidikan keberagaman atau multikultural merupakan pendidikan yang menghargai pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku dan aliran (agama).

Pendidikan ini digagas oleh seorang pakar pendidikan Amerika Serikat Prudence Crandall (18-3-1890) yang secara intensif menyebarkan pandangan tentang arti penting latar belakang peserta didik, baik ditinjau dari aspek budaya, etnis, dan agamanya. Jadi, bisa dikatakan pendidikan multikultural sudah lama ada, namun di negara kita belum masif diimplimentasikan dalam pembelajaran sekolah.

Lewat pendidikan multikultural sesungguhnya peserta didik bisa, (1) memahami latar belakang diri dan kelompok dalam masyarakat; (2) menghormati adanya perbedaan budaya, suku, bahasa, agama, dan kedudukan; (3) mengapresiasikan diri terhadap budaya lokal; (4) memahami perbedaan yang terjadi di lingkungan sekitarnya; (5) mampu mencari solusi dalam permasalahan yang terjadi; (6) mengembangkan jati diri yang bermakna bagi semua orang; dan (7) dapat meningkatkan kepekaan sosial.

Penerapan

Sesungguhnya pada Kurikulum 2013 (K-13) sudah didesain untuk memperkuat keindonesiaan yang merupakan negara plural atau multikultural. Ini tercermin dalam buku teks K-13, baik buku guru maupun siswa yang dipakai pada pembelajaran. Dalam buku tersebut, pendidikan multikultural diselipkan dalam tema, teks bacaan, maupun tokoh-tokoh dalam gambar.

Sebagai contoh, pada kelas IV SD tema Indahnya Kebersamaan, dikupas mengenai keberagaman Indonesia. Selain itu, keberagaman juga dijelaskan dalam tokoh-tokoh yang tergambar seperti Siti (anak perempuan berjilbab) dan Lina (bermata sipit dari etnis Tionghoa). Ada juga Edo yang berambut keriting dari Papua, Benny berasal dari etnis Batak, atau Udin dari Betawi.

Sesungguhnya sekolah bisa langsung mengimplementasikannya. Lewat tema Indahnya Kebersamaan tersebut, dimaksudkan untuk memperkuat karakter tiap siswa mengenai kemampuan untuk memegang prinsip toleransi dalam kehidupan bersama. Sehingga anak-anak akan terbangun kesadarannya bahwa Indonesia itu memang beragam.

Namun sangat disayangkan K-13 yang punya misi mulia itu “ditidurkan” untuk sementara. Kini sekolah kembali memakai kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Persoalannya dalam KTSP, materi keberagaman belum dimunculkan.

Sekolah yang memakai KTSP hendaknya berupaya mengimplementasikan dengan cara,  pertama, integrasi isi/materi (content integration). Memasukkan materi nilai-nilai multikultural ke dalam kurikulum. Alternatif yang bisa ditempuh antara lain: memasukkan ke beberapa materi pelajaran yang relevan seperti Agama, PPKn, Bahasa Indonesia, IPS, dan sebagainya, atau memasukkan pendidikan multikultural sebagai mata pelajaran muatan lokal yang harus ditempuh peserta didik.

Kedua, konstruksi pengetahuan. Mengembangkan nilai-nilai multikultural melalui aspek kognitif siswa.  Peserta didik dibekali pengetahuan yang biasanya diberikan secara teori di dalam kelas oleh guru. Pengetahuan ini diharapkan bisa melekat dalam benak peserta didik yang kemudian tersimpan dalam memori otaknya untuk sewaktu-waktu menjadi pengetahuan yang diperlukan dalam bertindak.

Ketiga, melalui pemberdayaan budaya sekolah. Semangat multikulturalisme harus tercermin dalam segala aktivitas sekolah oleh seluruh personel sekolah. Nilai-nilai multikulturalisme yang tergambar dalam visi misi sekolah harus diterapkan di dalam maupun di luar kelas.

Pembudayaan akan berhasil manakala tiap personel sekolah menyadari pentingnya toleransi terhadap perbedaan dan menghargai hak setiap individu. Serta adanya keteladanan dari guru, ing ngarsa sung tuladha. Oleh sebab itu, selain punya kewajiban untuk mampu menyampaikan materi atau pesan mengenai perilaku toleransi dalam keberagaman, guru juga wajib menghidupkan pesan yang dia sampaikan melalui perilaku sehari-harinya.

Selain itu, sekolah perlu membuat kebijakan antikekerasan. Sekolah harus menghindari pengelompokan, pemisahan, dan pembedakan individu berdasarkan ikatan primordial, seperti agama, suku, ras, dan kemampuan akademis, yang merupakan benih-benih awal tumbuhnya perilaku kekerasan. Mengubah perilaku kekerasan dengan memberikan pengalaman berempati dengan orang lain, mampu menguasai diri, dan mengajarkan cara-cara penyelesaian persoalan secara damai dan dialogis.

Manakala sekolah sudah menerapkan pendidikan multikultural dengan baik, saya yakin akan berimbas pada penguatan nilai-nilai multikultural di masyarakat. Eman tenan bila dulu para pahlawan dari berbagai daerah, yang berbeda suku, agama, bersatu untuk merebut kemerdekaan, namun kini kita tidak mengelola persatuan dan kesatuan untuk mempertahankan kemerdekaan itu. Melalui pendidikan multikultural sesungguhnya kita berupaya merawat kemajemukan bangsa untuk Indonesia damai.

BAGIKAN