JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Pendidikan Literasi di Sekolah

OPINI: Pendidikan Literasi di Sekolah

947
BAGIKAN
Siswi SMP Muhammadiyah Program Khusus Surakarta menikmati buku bacaan pada perpustakaan keliling, Sabtu (10/01/2015) di Taman Balekambang. Mereka berada ditempat tersebut untuk memcari inspirasi sebelum membuat karya dengan tema ragam budaya Indonesia yang akan dibawa pada pengenalan budaya di Singapura_Foto_Maksum N F
Ilustrasi: Joglosemar/Maksum N F

Agus Yulianto

Guru SDIT Insan Cendekia, Boyolali

 

Beberapa akhir ini saya berkumpul dengan teman-teman pegiat Komunitas Literasi. Apa yang dibicarakan tidak jauh dari buku, nulis dan baca. Hal ini tentunya sangat menarik sekali khususnya bagi saya selaku guru di salah satu sekolah dasar. Mengingat budaya literasi di negara kita saat ini sungguh rendah sekali. Bahkan kita tertinggal jauh dengan beberapa negara seperti Negara Vietnam, setiap tahunnya mampu menghasilkan 15.000 buku per tahun. Sedangkan negara Indonesia hanya mampu menghasilkan 8.000 buku per tahun. Begitu minimnya minat masyarakat Indonesia terhadap budaya literasi khususnya menulis. Lalu, seperti apakah kondisi perbukuan dan minat baca anak di Indonesia?

Buku dan Budaya Baca Anak

Buku bacaan anak masih menjadi primadona bagi dunia penerbitan. Mayoritas buku-buku cerita fiksi maupun nonfiksi bergambarlah yang mencuri hati. Menurut Ikapi sampai saat ini, bahkan hanya buku bacaan anaklah yang konsisten di peta perbukuan dunia.  Dunia mengakui buku anaklah yang paling digemari, sampai ada pameran khususnya bertajuk Blogna Children’s Book Fair (BCBF) yang rutin dilaksanakan di Italia tiap tahun.  Pameran buku yang sudah dilaksanakan untuk ke-51 kalinya pada 2015 ini merupakan bukti kekuatan pangsa buku bergenre anak di dunia. Di Indonesia pun, kekuatan penjualan buku anak yang mencapai angka puluhan ribu membuat tren genre ini kian kuat.

Penjualan yang setiap tahunnya konstan di angka 10 sampai 11 juta membuat buku anak bak primadona bagi para penerbit dan penulis. Indonesia yang untuk pertama kalinya diundang sebagai peserta dalam BCBF Maret lalu sampai membawa 231 judul buku bacaan anak.

Buku cerita dengan judul legendaris, seperti Putri Salju, Pinokio, hingga yang berasal dari dalam negeri semisal cerita Si Kancil dan para sahabatnya begitu melekat di benak penggemar dongeng dan fabel. Masa-masa bacaan dongeng maupun fabel  dibacakan sebelum tidur oleh para orang tua kepada anaknya pernah sangat meluas.  Lantas, saat ini buku cerita masihkah tetap menghiasi rak-rak buku kamar setiap anak untuk dibacakan kepada mereka setiap malamnya?

Buku–buku dengan konten dongeng, fiksi, maupun fantasi selalu memiliki basis penggemar tersendiri. Buku-buku yang bertemakan bacaan dongeng tak  akan pernah lekang oleh siapa pun. Terlebih, soal kesadaran atau minat baca dari anak-anak itu sendiri. Khususnya di perkotaan, anak usia SD itu minat bacanya akan selalu tumbuh.  Dewasa ini tidak ada tren jenis bacaan anak yang mendominasi kepopuleran kancah perbukuan. Hampir seluruh jenis buku anak baik itu dongeng maupun bacaan pendidikan sama-sama difavoritkan.  Beberapa tren buku bacaan umumnya dipengaruhi oleh ketertarikan anak kepada hal-hal yang mereka anggap baru. Seperti munculnya karakter atau tokoh yang sebelumnya sudah populer di dunia film dan game anak. Contohnya, buku berjudul Deputy Mater,. Tokoh utama dalam buku ini, Mater, sudah dikenal anak terlebih dulu melalui dua film animasi populer, Cars dan Cars 2.  Buku bacaan anak  tidak akan pernah kehilangan pembacanya. Hal itu, terindikasi dari sejumlah penerbit yang setia mengikuti perkembangan zaman dari kecenderungan dan kegemaran anak.

Anak Generasi Digital

Generasi anak masa kini yang sudah dekat dengan dunia digital pun terus diikuti oleh para penerbit. Tak heran, para penerbit mulai masuk pada penganekaragaman produk dengan pilihan-pilhan digital. Kecenderungan anak saat yang tak bisa lepas dari sentuhan teknologi membuat penerbit bahkan para penulis memainkan kreativitas pada konten digital. Di sinilah terkadang tren bacaan anak akan ditentukan, apakah masih didominasi dongeng, ilmu pengetahuan, bahkan rupa-rupa satra.  Soal muatan,  saat ini buku-buku berisi gambar penuh warna masih sangat digemari oleh anak-anak usia 3-11 tahun. Baik itu buku luar negeri yang diterjemahkan maupun cerita lokal dalam negeri, adanya gambar telah menjadi syarat utama untuk buku anak. Efeknya, banyak penulis yang berlomba-lomba menulis buku anak sekreatif mungkin. Ini membuat pilihan anak dalam membaca kian banyak dan semakin menarik untuk dibaca.

Prospek terbesar dari pasar buku anak yang saat ini sangat diperhitungkan oleh para penerbit dan penulis adalah bacaan religi Islam. Di Indonesia, buku-buku bertema agama Islam masuk dalam jajaran bacaan terfavorit anak-anak di generasi yang lahir pada 2000-an. Buku-buku cerita yang berfondasikan pada fakta akan jauh lebih mendidik bagi anak. Poin tersebut tersaji dalam buku-buku bertema Islam yang dimuat dalam kisah para Rasul.  Buku bertema sirah Nabi dan para sahabat selalu menjadi favorit setiap  zaman. Dengan begitu, saat ini para penerbit dan penulis tengah getol mengembangkan buku religi dengan pendekatan modern.  Seperti menyisipkan cerita dan gambar menarik dalam Juz Amma dan buku-buku doa. Pengembangan dari ide-ide penulisan buku tersebut pun kadang dirangkai dalam konsep penjualan yang kreatif. Seperti menyisipkan  CD berisi tayangan yang berhubungan dengan isi buku. Tentunya tayangan-tayangan dalam CD tersebut menajdi daya tarik  sendiri karena faktor gambar yang bergerak. Buku religi Islam memiliki tempatnya dan kreativitas penulis  akan selalu terasa untuk membuat buku bertema religi tampak berbeda.

Peran Guru Bahasa

Melihat kondisi tersebut saya teringat sebuah mata pelajaran yang berhubungan dengan dunia literasi yakni  Bahasa dan Sastra Indonesia.  Kita tahu bahwa pelajaran Sastra & Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diikutkan dalam ujian nasional. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju, seperti di Amerika, Belanda dan Perancis. Setiap siswa dalam mengikuti pelajaran Bahasa dan Sastra diwajibkan untuk membaca kurang lebih 30 buku sastra.  Demikian pula, seperti negara-negara Asia; Jepang para siswa diwajibkan membaca 15 buku sastra,  Brunai Darussalam setiap siswa diwajibkan membaca 7 buku sastra dan Singapura 6 buku sastra. Lalu, bagaimana dengan sekolah kita?

Melihat kualitas beberapa negara tersebut, saya berharap guru pengampu mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia ada sebuah upaya untuk meningkatkan budaya membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan bagi para siswanya. Perlu kita ketahui bahwa bahasa memiliki peranan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa. Selain itu juga sebagai penunjang keberhasilan siswa dalam mempelajari semua bidang studi.

Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diharapkan lebih dapat membantu siswa untuk mengenal dirinya, budayanya, dan lingkungannya. Secara jujur harus diakui, bahwa pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah belum berlangsung seperti yang diharapkan.

Masih banyak ditemukan guru yang menggunakan teknik ceramah untuk membelajarkan siswa belajar berbahasa dan bersastra. Guru cenderung menggunakan teknik pembelajaran yang bercorak teoritis dan hafalan. Sehingga kegiatan pembelajarn berlangsung kaku, monoton dan membosankan. Akibatnya, mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia belum mampu menjadi mata pelajaran yang disenangi dan dirindukan  oleh siswa. Imbas lebih jauh dari kondisi ini yakni kegagalan siswa dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, serta sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia. Padahal guru Bahasa Indonesia bukan harus mengajarkan bahasa atau sastra. Tetapi membuat siswa belajar menggunakan bahasa dan sastra dalam konteks kehidupannya.

Selain itu, Pengembangan daya imajinasi dan menghasilkan karya belum menjadi fokus dalam proses pembelajaran sastra. Kegiatan membaca belum dijadikan sumber inspirasi utama. Pengembangan daya imajinasi siswa masih banyak digali dari pengalaman pribadi siswa sehingga karya yang siswa hasilkan belum berkembang. Hal ini dikarenakan strategi pembelajaran tidak dimulai dari karya-karya yang sudah ada.

Mengembangkan ide dari karya yang sudah ada memerlukan daya baca karya yang lebih banyak. Pengalaman intelektual dan pengalaman batin siswa tidak hanya menjelajah pengalaman dirinya sendiri. Melainkan juga menjelajah pengalaman yang sudah dilalui orang lain. Dari hal ini, diharapkan siswa dapat memiliki pengalaman berharga dalam berbahasa di dunia nyata, bukan dunia sekolah. Semoga saja!