JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Pers dan Olahraga

OPINI: Pers dan Olahraga

305
BAGIKAN
Joglosemar/Mohammad Ayudha PERSIS MENANG- Pemain Persis Solo, Johan Yoga (kiri) berusaha mempertahankan bola dan dihadang pemain Persibangga Purbalingga, Riski Setiawan (kanan) pada pertandingan penyisisha grup C Piala Kemerdekaan di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (22/8). Pada pertandingan tersebut Persis Solo menang dengan skor 5-1.
Ilustrasi: Joglosemar/Mohammad Ayudha

Bandung Mawardi

Pengelola Jagat Abjad Solo

 

Peringatan Hari Olahraga Nasional, 9 September 2015, pantas dijadikan dalih membuka kesejarahan pemberitaan olahraga di pelbagai surat kabar di Indonesia, sejak awal abad XX. Berita-berita di masa lalu adalah dokumen sejarah keolahragaan berkaitan ambisi nasionalisme, identitas, dan modernitas. Kapan berita olahraga mulai tampil di surat kabar terbitan di Indonesia?

Bangun dalam buku Berita Olahraga Tempo Doeloe (2012) menginformasikan bahwa lacakan berita-berita olahraga sulit ditemukan dalam terbitan surat kabar sebelum abad XX. Lacakan terlawas adalah pemuatan berita sepak raga (sepak bola) di Pemberita Betawi edisi 4 Agustus 1906. Berita-berita disampaikan ke pembaca sebelum acara-acara olaharga berlangsung. Publik diajak ikut berdatangan untuk menonton atau mengikuti perkembangan olahraga melalui berita-berita pendek.

Berita-berita sepak raga atau sepak bola sering muncul ketimbang jenis-jenis olahraga lain. Di Indonesia, sepak raga atau sepak bola memang sedang digandrungi. Perkumpulan-perkumpulan terbentuk untuk saling bertanding memperebutkan kejuaraan atau menghibur dalam acara pasar malam dan pementasan sandiwara.

Di pelbagai serikat atau gerakan politik kebangsaan, olahraga menjadi ekspresi menguatkan ideologi, soliditas, dan propaganda kemodernan. Boedi Oetomo, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, dan sekian organisasi modern menempatkan olaharga sebagai agenda penting dalam pembesaran misi kebangsaan. Sepak bola tampak jadi pilihan utama. Dulu, berita-berita sepak bola sudah menjelaskan geliat berolahraga di negeri jajahan. Politik kolonialisme diladeni dengan bergerak dan berkeringat demi pembuktian misi-misi besar.

Pada bulan Juli 1910, surat kabar Pantjaran Warta mulai mengadakan sisipan berjudul “Kabar Sport”. Sisipan itu bermisi: “Soeara permainan sport segala bangsa di Hindia-Olanda.” Kita simak berita tentang pertandingan sepak bola antara VIOSI melawan Hercules di Pantjaran Warta edisi 7 September 1910: “Hari Minggoe j.l. bersamaan dengan 4 September 1910 soedah dilangsoengkan pertandingan jang heibat ini dan ditonton oleh beriboe-riboe manoesia. Oeang entree boewat masoek melihat pertandingan dilipat doea. Walaupoen begitoe tiadalah oeroeng djoega pada poekoel 4 setengah soedah berlapis hamba Allah boewat mempersaksiken match jang amat bagoes ini.” Kita mengandaikan pertandingan itu meriah oleh teriakan dan tepuk tangan. Berita memastikan sebagai perekam. Kini, berita itu dokumen sejarah.

Perkembangan pers semakin mengartikan olahraga sebagai berita penting. pada 1 Februari 1930, Andjar Asmara memberi pengantar dalam terbitan majalah Doenia Film dan Sport. Majalah ini lanjutan atau perubahan dari majalah bernama Doenia Film, terbit sejak 1929. Redaksi menjelaskan: “… artinja moelai sekarang selaennja dari warta wartawan tentang doenia film kita aken moeatken djoega kabar-kabaran dari kalangan sport. Kaloe kita mengambil tindakan ini tida laen dari lantaran desakan jang keras dari sedjoemlah besar dari kita poenja pembatja (Kurniawan Junaedhie, Rahasia Dapur Majalah di Indonesia, 1995) ” Publik semakin ingin mengetahui dan mengikuti perkembangan olahraga di Indonesia melalui kehadiran majalah. Adegan membaca memungkinkan publik bertaut dengan para tokoh dan peristiwa olahraga.

Informasi-informasi dalam buku garapan Junaedhi ringkas, tak lengkap. Keberadaan majalah Aneka tak mendapat pembahasan. Pada masa 1950-an dan 1960-an, publik membaca pelbagai berita, artikel, cerpen, dan ulasan olahraga di majalah Aneka. Semula, Aneka adalah majalah olahraga dan film. Perkembangan lanjutan membuktikan Aneka memilih sebagai majalah khusus olahraga. Majalah itu bermisi sebagai “pembina manusia baru Indonesia.” Maradjo dalam artikel berjudul “Sedikit Perkembangan Pemberitaan Olahraga” di Aneka edisi 9 Maret 1963 menjelaskan bahwa pola memberitakan jadwal dan hasil pertandingan mulai dilengkapi analisis dan interpretasi. Wartawan memiliki tugas mengisi halaman-halaman olahraga agar terbentuk penguatan informasi dan pengetahuan bagi pembaca.

Pada masa 1960-an, olahraga semakin sering menjadi berita akibat perintah penguasa bahwa olahraga itu alat revolusi. Pada 23 Agustus 1961, terbit Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 469 Tahun 1961 berisi seruan revolusi keolahragaan. Soekarno juga berpidato dalam Rapat Umum PSSI (1964), memberi seruan-seruan revolusioner. Kita simak pemberitaan di Aneka edisi 25 Juli 1964: “Presiden pada achir amanatnja menjerukan agar olahraga dilakukan setjara massal di seluruh tanah air sehingga dalam waktu singkat 103 djuta rakjat Indonesia berolahraga, sehingga dalam waktu singkat pula bangsa Indonesia mendjadi bangsa jang kuat, sigap fisik dan mental sehingga dikagumi oleh seluruh bangsa didunia.” Pidato terkesan ambisius. Olahraga terlalu penting bagi laju revolusi Indonesia! Berolahraga harus sesuai Pancasila dan Manipol-USDEK. Olahraga demi revolusi mental dan pelaksanaan Ampera (Amanat Penderitaan Rakjat).

Pada masa Orde Baru, olahraga tetap penting bagi agenda kekuasaan. Soeharto mengartikan olahraga harus turut mengalami pembinaan demi kesuksesan pembangunan. Keberadaan kementerian, dinas, organisasi, dan pers diharapkan jadi penentu keberhasilan pembangunan. Kita tentu masih ingat slogan mujarab: “memasyarakatkan olahraga, mengolahragakan masyarakat.” Warga Indonesia dianjurkan berolahraga agar sesuai kehendak penguasa dan bersesuaian dengan Pancasila atau deru pembangunan. Surat kabar dan majalah terus berperan memberitakan dan memuat anlisisi-analisis olahraga. Berita tak lagi dikuasai sepakbola. Publik mulai gandrung dengan berita bulu tangkis, balap motor, renang, tenis, dan atletik. Popularitas sepak bola dan bulu tangkis tetap tak tersaingi sampai sekarang.

Kegandrungan berolahraga dan peran pers dalam pembangunan olahraga jadi urusan besar bagi redaksi majalah Prisma terbitan LP3ES. Kita bisa membuka kembali Prisma edisi Mei 1978 berjudul “Olahraga: Untuk Apa”. WP Napitupulu dalam artikel “Kebijaksanaan Keolahragaan di Indonesia” mengingatkan bahwa urusan olahraga tercantum dalam pelbagai undang-undang, peraturan, dan GBHN. Olahraga diharapkan “benar-benar membawa kita bergerak ke arah Indonesia lebih maju, adil-makmur, materiil-spirituil berdasarkan Pancasila.” Pemerintah bertanggung jawab dalam mengolahragakan jutaan orang alias warga Indonesia. Idealitas olahraga pada masa 1960-an hampir serupa dengan olahraga sesuai imperatif penguasa Orde Baru.

Kini, apakah Joko Widodo memiliki ambisi besar untuk kemajuan olah raga, bersaing dengan kebijakan para presiden terdahulu? Kita menduga urusan olahrga gampang dilekati slogan revolusi mental. Tema peringatan untuk tahun ini: “Gelorakan  Budaya Olahraga untuk Indonesia Hebat.” Tema aneh dan berlebihan. Olahraga demi revolusi mental atau Indonesia hebat mengingatkan kita pada pidato dan kebijakan Soekarno. Joko Widodo pun membuktikan perhatian pemerintah dengan memberi penghargaan pada sejumlah atlet berprestasi, 10 mantan atlet, pelatih, wasit, dan pemijat dalam puncak peringatan Hari Olahraga Nasional di Istora Senayan, Jakarta, 9 September 2015. Kita cuma mengingatkan saja bahwa kesejarahan dan perkembangan olahraga di Indonesia turut dipengaruhi oleh pers, sejak awal abad XX sampai sekarang. Joko Widodo pantas memperhatikan pers agar semakin menguatkan misi memajukan olahraga di Indonesia. Begitu.