JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Pengusaha Boyolali Keluhkan Melemahnya Rupiah

Pengusaha Boyolali Keluhkan Melemahnya Rupiah

111
BAGIKAN
MENJELANG HARI BURUH-- Sejumlah buruh PT Sari Warna Asli keluar dari pabrik di Pucangsawit, Solo, Selasa (29/4). Untuk memastikan tidak ada buruh yang dipekerjakan perusahaan di hari peringatan buruh internasional (May Day) pada Kamis (1/5) besok, Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Surakarta mengancam akan melakukan aksi sweeping ke perusahaan.  Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
Ilustrasi pekerja. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

BOYOLALI– Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika, juga berdampak pada industri yang ada di Boyolali. Meski demikian, dampak melemahnya dolar belum sampai mengancam PHK (pemutusan hubungan kerja) buruh atau pekerja pabrik di Boyolali.

Demikian diungkapkan Purwanto, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertran) Boyolali, Jumat (4/9). Purwanto mengungkapkan, kemarin pihaknya sudah menggelar rapat besama Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Boyolali dan serikat pekerja atau buruh.

Dalam rapat tersebut disampaikan, melemahnya nilai rupiah juga berimbas pada penurunan order di masing-masing perusahaan yang ada di Boyolali. Selain itu, melemahnya rupiah juga membuat biaya produksi meningkat signifikan.

“Memang melemahnya rupiah juga berimbas di perusahaan-perusahaan yang ada di Boyolali, setidaknya ada pengurangan sebagian order, tapi di Boyolali belum ada PHK kayawan,” ungkap Purwanto.

Namun dalam rapat kemarin, Purwanto menegaskan, penurunan order tersebut belum sampai mengancam nasib buruh atau pekerja.

Setidaknya para pengusaha juga didorong untuk mampu bertahan dan menyiasati kondisi melemahnya rupiah, sehingga tidak sampai melakukan PHK missal buruh. Bahkan, Dinsosnakertran menurut Purwanto, juga sudah membuat perjanjian dengan Apindo Boyolali agar sebisa mungkin tidak melakukan PHK terhadap karyawan.

“Dalam kesepakatan itu kami mendorong  pengusaha agar bisa menyiasati kondisi, misalkan jika oderan sedikit maka karyawan bisa diselang-seling shift atau sebaliknya saat oderan banyak maka seluruh karyawan bisa diberdayagunakan. Yang paling penting jangan sampai terjadi PHK,” terang Purwanto.

Di Boyolali sendiri terdapat banyak industri skala besar, terutama yang bergerak di bidang tekstil maupun garmen.

Sementara jumlah buruh atau pekerja pabrik-pabrik tersebut terbilang cukup besar, mencapai sekitar 70 ribu pekerja. Melemahnya rupiah dan memburuknya perekonomian nasional, harus diantisipasi agar nasib para pekerja bisa terproteksi.

Terpisah, Ali Rosidi, Sekretaris Komisi IV DPRD Boyolali menegaskan, pihaknya meminta agar pemerintah dan pihak terkait di Boyolali segera mengambil langkah konkret menyikapi dan mengantisipasi kondisi ekonomi nasional yang tengah melemah.

Upaya antisipasi tersebut lanjut dia, diperlukan untuk menjaga iklim investasi di Boyolali tetap kondusif.

“Sementara ini Boyolali termasuk masih aman dari gelombang PHK. Namun tetap harus ada upaya konkret untuk antisipasi,” imbuh dia.

Ario Bhawono