Perekonomian Tiongkok Kembali Jatuh

Perekonomian Tiongkok Kembali Jatuh

52
Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Widodo berbincang dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) saat melakukan Historical Walk di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, dalam peringatan ke-60 tahun Konferensi Asia-Afrika, Jumat (24/4/2015). (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)
Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Widodo berbincang dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) saat melakukan Historical Walk di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, dalam peringatan ke-60 tahun Konferensi Asia-Afrika, Jumat (24/4/2015). (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

JAKARTA- Volume ekspor Tiongkok kembali jatuh sepanjang Agustus. Demikian data ekspor terbaru Tiongkok seperti dilaporkan AFP.

Gambaran ini muncul setelah melambatnya perekonomian di raksasa Asia dan aktor perdagangan barang terbesar dunia ini membuat pasar global panik ketika Beijing berusaha menyeimbangkan pertumbuhan ekonominya dengan bergeser kepada orientasi konsumsi domestik.

Celakanya skenario ini tak berjalan karena lemahnya permintaan dari pasar dalam negeri Tiongkok sendiri.

Data terbaru menunjukkan ekspor year on year turun 5,5 persen menjadi 196,9 miliar dolar AS pada Agustus, kutip AFI dari laman kepabeanan Tiongkok.

Baca Juga :  Tingkat Konsumsi Ikan Masih Rendah, Warga Trangsan Sukoharjo Galakkan Gemarikan dan Berdayakan Kolam

Angka ini di bawah perkiraan tengah 6,6 persen seperti telah disurvey Bloomberg News, selain juga perbaikan dibandingkan angka Juli yang jatuh 8,3 persen.

“Ekspor ke AS dan ASEAN terus bertumbuh namun pengapalan ke Uni Eropa dan Jepang menurun,” tulis kepabeanan Tiongkok dalam lamannya itu.

Impor juga terpangkas 13,8 persen secara year-on-year pada angka 136,6 miliar dolar AS yang menandai meluasnya kejatuhan harga komoditas.

Baca Juga :  Bawa Lari Enam Sapi dan Tipu Belasan Peternak di Tanon, Polres Sragen Kejar Sindikat Ini

Ini adalah bulan kesepuluh berturut-turut impor Tiongkok turun dan angkanya lebih buruk dari proyeksi penurunan Bloomberg sebesar 7,9 persen.

Namun bagi Julian Evans-Pritchard dari Capital Economics, outlook itu lebih cerah dibandingkan keyakinan banyak kalangan.

“Pertumbuhan perdagangan mestinya pulih kembali dalam triwulan-triwulan mendatang,” kata dia.

Yang jelas melambatnya ekonomi Tiongkok telah memberi sentimen negatif besar di pasar saham global sehingga hari ini saja indeks harga saham gabungan Shanghai turun sampai 1,38 persen.

Antara

BAGIKAN