JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Peringati Hari Tani, Petani dan Mahasiswa Tagih Janji Jokowi Soal Swasembada Pangan

Peringati Hari Tani, Petani dan Mahasiswa Tagih Janji Jokowi Soal Swasembada Pangan

92
BAGIKAN

FOTO KETUA RELAWAN PETANI SRAGEN- SUTARNO TAGIH JANJI JOKOWI (1)SOLO– Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) bersama para petani yang tergabung dalam Jaringan Petani Organik (Jarpeto) Soloraya memperingati Hari Tani Nasional yang ke-55 dengan menggelar aksi.

Aksi tersebut digelar dengan jalan kaki dari Bundaran Gladak menuju Pertigaan Keprabon saat Car Free Day (CFD) di Jalan Slamet Riyadi Solo digelar pada Minggu (20/9/2015).

Presiden BEM FP UNS, Agus Wibowo mengatakan, dalam aksi tersebut, mahasiswa dan petani menagih janji presiden Joko Widodo (Jokowi) yaitu swasembada pangan.

Namun hingga kini masih banyak permasalahan yang menghambat harapan presiden dan seluruh rakyat Indonesia tersebut. Untuk itu, dalam aksi tersebut mahasiswa dan petani menyerukan delapan tuntutan.

Diantaranya yaitu stop alih fungsi lahan pertanian, menolak keras pembukaan lahan dengan cara pembakaran, menjunjung tinggi kearifan lokal dengan dipadukan teknologi terbarukan, transparansi program upaya khusus, mendukung pertanian organik menuju swasembada pangan dalam negeri, menjunjung tinggi produk dalam negeri, meningkatkan produktivitas dalam negeri guna mengurangi impor dan menjaga kelestarian alam dengan pertanian organik.

“Aksi Hari Tani Nasional ini kami gelar untuk menyampaikan keresahan dari para petani. Namun ironisnya, permasalahan para petani ini belum pernah terselesaikan padahal sudah 55 tahun Hari Tani berlangsung,”katanya.

Agus berharap, dengan 55 tahun Hari Tani Nasional ini, pemerintah lebih mempedulikan masyarakat petani serta mendukung tuntutan rakyat yang telah disampaikan tersebut.

Sementara itu, salah seorang petani organik dari Jatipuro, Karanganyar, Marwito mengaku kebijakan pemerintah selama ini belum mendukung para petani khususnya petani organik. Terbukti para Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dari dinas itu masih menjual pupuk tidak organik kepada petani.

“Kok tidak memberikan penyuluhan bagaimana membuat pupuk organik, tapi kok malah memberikan pupuk bukan organik,” kata Marwito.

Meski demikian, Marwito dan teman-temannya sesama petani organik sudah memiliki pupuk dari limbah ternak atau rumah tangga yang bisa digunakan.Hanya saja untuk perhatian dari pemerintah masih kurang. Di Hari Tani Nasional ini, Marwito berharap mudah-mudahan pemerintah bisa mensejahterakan para petani.

“Pertanian organik ini butuh didukung pemerintah. Supaya masyarakat sehat, maka perlu mengkonsumsi hasil pertanian organik. Jangan nabung penyakit dengan mengkonsumsi hasil pertanian nonorganik,” ujar Marwito.

Dwi Hastuti