JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Pertamina Kurangi Produksi Premium Bertahap

Pertamina Kurangi Produksi Premium Bertahap

66
BAGIKAN
Ilustrasi: Joglosemar/Maksum Nur Fauzan
Ilustrasi: Joglosemar/Maksum Nur Fauzan

CILACAP – Direktur Pengolahan PT Pertamina (Persero) Rachmad Hardadi mengatakan Pertamina akan mengurangi produksi Premium RON 88 secara bertahap mulai 2018 atau setelah kilang Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) selesai dibangun.

“Insya Allah pada minggu kedua Oktober, sekitar 6 atau 8 Oktober nanti, kilang RFCC (Residual Fluid Catalytic Cracking) siap diresmikan oleh Presiden (Presiden Joko Widodo, red.) dan sekaligus dicanangkan dimulainya pembangunan kilang PLBC atau Proyek Langit Biru Cilacap,” katanya di Cilacap, Jawa Tengah, Senin (14/9/2015).

Rachmad mengatakan hal itu kepada wartawan usai meninjau kesiapan kilang RFCC di kompleks Pertamina Refinery Unit IV Cilacap menjelang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada awal Oktober 2015. Ia memperkirakan proyek pembangunan kilang PLBC tersebut akan selesai pada pertengahan 2018.

“Pada saat pembangunan kilang PLBC selesai, maka seluruh gasolin yang keluar dari Cilacap (diproduksi Pertamina Refinery Unit IV Cilacap, red.) itu seluruhnya adalah Pertamax dengan oktan minimum 92,” katanya.

Dengan demikian, kata dia, Pertamina RU IV Cilacap mulai pertengahan 2018 tidak lagi memroduksi Premium.

Saat ditanya apakah hal itu sebagai sinyal bahwa Premium akan dikurangi hingga akhirnya dihapuskan mengingat RU IV Cilacap memasok 60 persen kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di Pulau Jawa dan 34 persen di Indonesia, dia mengakui jika produksi Premium akan dihilangkan namun secara bertahap.

Kendati dari RU IV Cilacap tidak lagi memroduksi Premium, dia mengatakan kilang-kilang lain seperti RU II Dumai, RU II Plaju-Sungai Gerong, dan RU V Balikpapan masih memroduksi gasolin beroktan 88 itu sebelum proyek “Refining Development Masterplan Program (RDMP)” selesai.

Oleh karena itu, kata dia, masyarakat tidak perlu khawatir bahwa diversifikasi produk tersebut tidak akan mengakibatkan Premium mendadak hilang dari pasaran.

Disinggung mengenai produk Pertalite, Rachmad mengatakan hal itu sebenarnya merupakan diversifikasi produk yang dilakukan Pertamina agar masyarakat lebih banyak pilihan.

Sumarwoto | Antara