JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Petani Boyolali Olah Singkong Menjadi Gaplek

Petani Boyolali Olah Singkong Menjadi Gaplek

179
Seorang warga mengupas ketela pohon untuk gaplek di Paranggupito, Wonogiri
Seorang warga mengupas ketela pohon untuk gaplek

BOYOLALI- Musim kemarau ini, petani terutama di wilayah Boyolali utara yang panen singkong banyak yang mengolahnya menjadi gaplek. Selain untuk dijual, gaplek juga disimpan sebagai cadangan pangan.

Produksi gaplek di antaranya dilakukan petani di Desa Sumberagung, Kecamatan Klego. Nyoto (68), misalnya, memproses ketela pohon atau singkong menjadi gaplek. Potongan-potongan singkong miliknya dijemur di pinggir jalan pinggir jalan raya Klego-Andong.

“Panen singkong pas kemarau, jadi panasnya cukup terik dan singkong cepat kering menjadi gaplek,” tutur dia akhir pekan kemarin.

Menurut Nyoto, gaplek yang sudah jadi biasanya bisa langsung dijual atau cukup disimpan. Saat musim kemarau seperti sekarang ini aku dia, cukup mudah menjual gaplek. Pasalnya, selain bisa menjual langsung di pasar, juga banyak pengepul yang keliling desa untuk membeli gaplek milik petani. Saat ini harga gaplek menurut dia berkisar Rp 2500/kg.

Nyoto menjelaskan, menjual singkong dalam bentuk gaplek cukup menguntungkan dibandingkan menjual singkong langsung dilahan. Hal ini dikarenakan biasanya tanaman singkong ini ditanam sebagai tanaman selingan atau tumpangsari, yang ditanam dengan memanfaatkan pematang lahan. Sehingga kalaupun waktunya panen, hasilnya tak seberapa.

Tetapi jika diolah menjadi gaplek, menurut dia hasilnya masih cukup lumayan. Sementara untuk mengolah singkong menjadi gaplek juga tidak sulit. Biasanya umbi singkong terlebih dahulu dikupas bersih dan dipotong-potong supaya cepat kering ketika dijemur. Itu pun jika cuaca panas terik matahari seharian penuh, biasanya cukup tiga hari singkong tersebut sudah kering dan menjadi gaplek.

“Setelah kering dimasukkan ke karung dan disimpan, dijual kalau pas membutuhkan saja,” kata dia.

Senada, Tomo (59), petani lainnya menambahkan, biasanya gaplek yang sudah jadi tidak langsung dijual, melainkan disimpan. Menurut dia, gaplek tersebut cukup tahan lama. Tomo mengaku menjual gaplek saat membutuhkan atau saat ada kebutuhan mendesak saja. Namun biasanya, gaplek tersebut diolahnya sendiri menjadi saat musim paceklik.

“Biasanya dimasak menjadi tiwul, lumayan jadi selingan saat musim paceklik,” ujar Tomo yang mengaku kali ini panen sekitar 25 kg singkong.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Boyolali, Bambang Purwadi mengungkapkan, selama ini kawasan Boyolali utara cocok untuk ditanami singkong. Hanya saja diakuinya, sebagian petani kebanyakan menanam singkong di pematang atau pembatas lahan.

“Petani masih memilih tanaman jagung atau jenis palawija yang lain. Sementara untuk singkong belum termasuk tanaman utama,” jelas dia.

Meski demikian pihaknya mendukung apa yang dilakukan petani dalam mengolah hasil pertanian, seperti singkong yang diolah menjadi gaplek. Meski tiwul diakuinya juga bukan makanan pokok, namun dengan adanya gaplek dan tiwul dapat memperkaya keanekaragaman pangan di Boyolali.

Ario Bhawono

BAGIKAN