JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Peternak Sragen Tuding Kebijakan Impor Bikin Daya Beli Sapi Lokal Merosot

Peternak Sragen Tuding Kebijakan Impor Bikin Daya Beli Sapi Lokal Merosot

129
BAGIKAN
Ilustrasi | Joglosemar/Ario Bhawono
Ilustrasi | Joglosemar/Ario Bhawono

SRAGEN – Para peternak dan pedagang sapi untuk persiapan kurban menyayangkan kebijakan Menteri Perdagangan yang nekat mendatangkan sapi impor menjelang Hari Raya Kurban.

Pasalnya dampak kebijakan itu, dituding membuat daya beli sapi lokal saat ini turun 30 persen meski harga jual sapi naik antara Rp2 juta – Rp3 juta.

Keluhan itu dilontarkan kalangan pedagang sapi di Pasar Hewan Nglangon, Sragen.

“Kalau harga memang naik, yang biasanya Rp15 juta sekarang bisa Rp17 Juta-Rp18 juta. Tapi lakunya rame tahun kemarin. Dulu sekali bawa lima ekor, bisa habis. Sekarang bawa lima hanya laku dua ekor. Menurut kami ini gara-gara kebijakan Pak Menteri mengimpor itu. Padahal nggone dhewe turah-turah sapi, kok sih nekat impor (punya sendiri jumlah sapi berlebih tetapi masih nekat impor,red),” ujar Gito (44), pedagang sapi lokal asal Dawung, Miri.

Senada, Slamet (74), pedagang asal Tangkil, Kelurahan Tangkil, Sragen mengakui harga untuk sapi kurban tahun ini memang lumayan naik di kisaran Rp2 juta-Rp3 juta. Namun, daya beli dari warga yang akan kurban merosot drastis.

Jika biasanya dalam sekali pasaran dia membawa 26 sapi dan jarang membawa pulang. Tahun ini rata-rata masih ada 10-12 ekor yang tidak laku.

Ketua Pengelola Pasar Hewan Nglangon, Sutaryo menyampaikan untuk kenaikan harga sapi kurban sudah terjadi mulai tiga pekan lalu atau sebulan menjelang kurban.

Wardoyo