JOGLOSEMAR.CO Berita Utama PKL Slamet Riyadi dan Urip Sumoharjo Abaikan Peringatan Pemerintah

PKL Slamet Riyadi dan Urip Sumoharjo Abaikan Peringatan Pemerintah

83
Ilustrasi | dok.Joglosemar
Ilustrasi | dok.Joglosemar

SOLO– Hari ini, Rabu (30/9/2015) merupakan batas waktu bagi pedagang kaki lima (PKL) menempati jalur lambat di Jalan Slamet Riyadi maupun Jalan Urip Sumoharjo untuk berjualan. Pasalnya, Kamis (1/10/2015) jalur di jalan protokol harus steril dari aktivitas PKL, hanya saja PKL akan tetap berjualan seperti biasanya.

“Kami akan tetap berjualan seperti biasa. Padahal selama berjualan disini tidak menganggu dan ini juga bukan permanen,” terang Koordinator Paguyupan Urip Mulyo PKL Jalan Urip Sumoharjo, Revyanto saat ditemui disela-sela aktivitasnya, Rabu (30/9/2015).

Mereka menyatakan akan tetap nekat berjualan, meski tidak lagi pakai tenda atau meja.

“Tetap berjualan disini tidak mau pindah dan ini sudah jadi mata pencaharian untuk keperluan keluarga, disini itu ada sekitar 41 PKL,” katanya.

Apalagi dalam melakukan penataan ini tidak ada solusi dari Pemkot yang diberikan ke pedagang. Bahkan Pemkot terkesan tebang pilih, kalaupun untuk mengembalikan fungsi jalur lambat harusnya tidak hanya PKL yang ditertibkan tapi juga kendaraan yang parkir. Masih banyak kendaraan yang parkir dan itu membuat jalur lambat jadi sempit, apalagi tidak permanen tapi bongkar pasang.

“Sosialisasi ke pedagang memang ada tapi tidak ada solusinya, bahkan surat peringatan (SP) yang diberikan waktu hanya 2-3 hari saja dan itu jelas sangat mepet. Pemkot itu pilih kasih harusnya itu semuanya ditertibkan tidak hanya pedagang tapi juga kendaraan yang parkir,” paparnya.

Sementara itu, PKL jalur lambat Jalan Slamet Riyadi, Supardi menyatakan akan tetap berjualan. Karena ini masalah perut buat keluarga.

“Besok tetap berjualan dan tidak takut. Kalau ditertibkan ya pindah dan nanti kembali lagi,” imbuhnya.

Supardi menambahkan, dari Pemkot pun tidak ada solusi mencarikan tempat dimana tapi malah sudah ditertibkan. Kalau seperti ini mau cari uang buat makan dimana, itu harus dipertimbangkan.

“Tidak boleh berjualan disini tapi tidak ada solusi gantinya dimana. Padahal kami tidak menganggu malah parkir yang menyerobot jalur lambat,” pungkas dia.

Ari Welianto

BAGIKAN