JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Produksi Susu Sapi di Musuk Terus Meningkat

Produksi Susu Sapi di Musuk Terus Meningkat

163
BAGIKAN
Pekerja tengah memandikan sapi yang di salon milik Nurhayati, yang berada di kawasan Pasar Hewan Singkil. | Joglosemar/Ario Bhawono
Ilustrasi | Joglosemar/Ario Bhawono

BOYOLALI– Dari 4000-an sapi perah yang ada di wilayah Kecamatan Musuk, baru sekitar 1.700-an yang berproduksi. Sementara itu serapan susu di KUD Musuk selama musim kemarau ini justru meningkat hingga 18 ton/hari.

Ketua KUD Musuk, Sri Kuncoro mengungkapkan pihaknya optimis produksi susu untuk wilayah Musuk masih bisa ditingkatkan. Pasalnya saat ini baru sekitar 1.700 ekor sapi yang berproduksi. Sementara sisanya belum waktunya produksi, sapi perah jantan, maupun sapi perah afkiran.

“Saat ini yang produksi baru sekitar 1.700-an, karena itu kami menyarankan agar sapi yang sudah afkir agar diremajakan,” ungkap Kuncoro, Selasa (8/9).

Selain itu menurut Kuncoro, peningkatan produksi susu sangat dimungkinkan, mengingat saat ini menurut dia sebagai peternak banyak yang beralih ke penggemukan sapi. Mereka beralasan, momentum lebaran kurban harga sapi pedaging terus melonjak tinggi.

Sementara sebagian peternak sapi perah, lebih memanfaatkan produksi susu untuk memberi minum anakan sapi agar lebih cepat gemuk. Sehingga sebagian dari mereka memilih tidak menjual susu produksi sapinya.

Menyikapi hal ini, ke depan menurut Kuncoro pihaknya akan lebih intensif menyosialisasikan ke peternak, terutama meyakinkan bahwa ternak sapi perah masih tetap prospektif. Guna mendukung itu, pihaknya juga akan membantu peternak untuk pengajuan kredit murah pengadaan sapi hingga pemberian bantuan subsidi pakan ternak.

Lebih lanjut menurut Kuncoro, selama musim kemarau ini produksi susu sapi perah di wilayah KUD Musuk justru mengalami peningkatan. Jika sebelumnya tingkat produksi rata-rata 14 ton/hari, saat ini produksi justru meningkat hingga 18 ton/hari.

Pihaknya menduga, sulitnya mencari pakan hijauan musim kemarau diduga justru membuat peternak lebih memilih pakan konsentrat. Imbasnya, dengan kualitas pakan yang lebih baik sehingga produksi susu pun ikut terkatrol meningkat.

Di sisi lain, meski selama musim kemarau masyarakat kesulitan air bersih, namun mereka tidak saying untuk mengurangi jatah minum ternak sapi perah mereka. Warga rela mengungari intensitas kebutuhan rumah tangga seperti untuk mandi, dan lebih memerioritaskan kebutuhan air untuk sapi.

Ario Bhawono