Puluhan Vespa “Gembel” Ini Diamankan Polisi, Pemilik Kalang Kabut

Puluhan Vespa “Gembel” Ini Diamankan Polisi, Pemilik Kalang Kabut

541
Puluhan vespa "gembel" diamankan di Polres Sragen | Foto: Joglosemar/Wardoyi
Puluhan vespa “gembel” diamankan di Polres Sragen | Foto: Joglosemar/Wardoyi

SRAGEN – Tim Polres Sragen menangkap sedikitnya 20 sepeda motor vespa modifikasi “gembel” milik beberapa pemuda komunitas vespa dari beberapa wilayah.

Puluhan vespa yang ditambahi dudukan di sampingnya lengkap dengan atribut sampah dan barang bekas itu dikukut saat melintas di Jalan Raya Sukowati, Minggu (6/9/2015) malam sekira pukul 22.00 WIB.

Wakapolres Sragen Kompol Yudy Arto Wiyono mengungkapkan puluhan vespa gembel itu ditangkap karena dianggap melanggar aturan UU No 22/1999 tentang Lalu Lintas.

Saat dilakukan penangkapan, mayoritas pemiliknya memilih kabur dan meninggalkan vespa mereka diambil aparat. Baru Senin (7/9/2015) beberapa perwakilan dari komunitas pecinta vespa modifikasi yang mengatasnamakan Java Extremis (JE) mendatangi Polres untuk meminta kejelasan dari vespa yang diamankan.

Baca Juga :  Reaksi DPRD Sragen Mendengar Banyak Ibu Melahirkan di Jalan Gilirejo Baru

“Coba dipikir sendiri. kalau vespa ditambah kereta gandengan terbuka seperti itu terus ada sampah-sampahnya, tidak ada lampunya apa nggak rawan ketika dikendarai di jalan raya. Kalau diambung Mira atau Sumber Kencono, polisi juga kan yang disalahkan,” ujar Wakapolres.

Kompol Yudy menegaskan Polres pada prinsipnya tidak melarang komunitas untuk memodifikasi kendaraannya dengan alasan hobi atau kesenangan. Akan tetapi, ketika kendaraan itu digunakan di jalan raya, mestinya juga harus memenuhi standar kelayakan yang ditentukan.

Baca Juga :  Anggota DPRD Bisa Kantongi Bersih Rp 30 Juta Per Bulan

Salah satu Ketua Komunitas JE,  Raga mengatakan sebenarnya motivasi awal komunitasnya memang hanya memodifikasi vespa karena hobi dan sama sekali tidak mengarah pada penambahan atribut gembel-gembelan. Menurutnya, untuk yang vespa gembel itu bukan masuk anggotanya namun tetap akan dirangkul agar bisa menaati aturan.

Wardoyo

BAGIKAN