Pusat Rehabilitasi Gangguan Mental Sinai Rawat Orang Gila Layaknya Keluarga

Pusat Rehabilitasi Gangguan Mental Sinai Rawat Orang Gila Layaknya Keluarga

470
HASIL RAZIA ORANG GILA--Anggota Satpol PP Kota Solo dan Anggot Linmas menggiring orang gila yang berhasil dijaring melalui razia orang gila di Panti Wreda Dharma Bakti, Pajang, Laweyan, Solo, Selasa (9/4). Setelah diamankan, orang gila yang terjaring razia akan dibersihkan, diperiksa kondisi kesehatannya, diberi makan dan menjalani proses penyembuhan. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
Ilustrasi: Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

MENERIMA sesuatu yang dianggap berbeda itu masih sulit dilakukan oleh masyarakat. Seperti saat memperlakukan orang yang mempunyai gangguan kejiwaan. Mereka cenderung diasingkan, dikucilkan, dan dihakimi.

Berada di Dukuh Kutu, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, terdapat Pusat Rehabilitasi Gangguan Mental Sinai. Didirikan sejak tahun 1992, sekarang yayasan ini menampung 184 pasien disabilitas mental dan sekitar 50 orang pecandu narkoba.

Pusat rehabilitasi seluas 1.815 meter persegi tersebut didirikan atas dasar rasa kasih yang diwujudkan dalam bentuk nyata oleh pemiliknya, yaitu Titus Lado. Pasien yang dibina berasal dari banyak tempat.

“Ada dari keluarga di Solo dan sekitarnya, ada juga Jakarta, Bandung, bahkan Palembang. Kalau dari pemerintah daerah jika ada razia yang dari jalan itu diantar ke sini. Kalau yang dari rumah sakit, pasca pengobatan lalu dikirim dan dibina di sini,” tuturnya.

Baca Juga :  Pulang Dari Masjid, Pensiunan PNS Syok Lihat Tas dan Dompet Isi Jutaan Rupiah Digasak Maling..

Titus mengakui akhir-akhir ini ada peningkatan jumlah pasien gangguan mental, terutama yang berasal dari jalanan. Sudah ada sekitar 20 orang tambahan hasil dari razia Satpol PP, ada juga sekitar 10 orang kiriman dari RS dr. Moewardi Solo, meskipun diterima secara berkala. Ia menilai hal ini disebabkan kondisi ekonomi dan ketidaksiapan seseorang untuk menghadapinya, diperparah dengan kondisi mental yang lemah.

Mengelola sebuah yayasan sosial memang butuh totalitas. Kebutuhan untuk operasional saja bisa mencapai Rp 3 juta per harinya. Dana yang didapat berasal dari sumbangan keluarga pasien, simpatisan, dan bantuan dari pemerintah walaupun sifatnya tidak tetap. Sebenarnya dari pemerintah daerah menjanjikan dana bantuan untuk renovasi dan sebagainya, namun hingga saat ini belum terealisasikan.

Baca Juga :  Resmi Daftar Cagub Jateng, Wardoyo Terharu Mendapat Banyak Dukungan

“Metode kita lebih pada membangun hubungan kekeluargaan. Jadi kami berusaha menciptakan suatu lingkungan yang nyaman sehingga mereka betah. Ketika masuk di sini diterima dan disambut dengan baik, ada sapaan, ada senyum, dan ada canda. Bahkan ada dari mereka yang tidak mau pas diajak pulang keluarganya,” jawabnya saat ditanya perihal bentuk penanganan yang diterapkannya.

Meskipun memiliki tingkat kesembuhan yang kecil, namun Titus mengungkapkan, bahwa sudah ada beberapa mantan pasien binaannya yang sudah sembuh.

Brian Ramadhan

BAGIKAN