JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Regenerasi Petani di Klaten Mengalami Kemandekan

Regenerasi Petani di Klaten Mengalami Kemandekan

260
BAGIKAN
DITERJANG ANGIN - Petani di Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas mengikat tanaman padi yanga ambruk diterjang angin, Senin (25/2). Joglosemar/Angga Purnama
Ilustrasi: dok.Joglosemar

KLATEN – Tim Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bidang kajian pangan, Jan Darmadi didampingi IGK Manila selaku sekretaris anggota Wantimpres mengunjungi  Klaten selama dua hari, yakni Rabu hingga Kamis (9-10/9/2015).

Dalam kunjungan  Tim Wantimpres tersebut, menemukan beberapa kendala yang dihadapi para petani di Klaten. Salah satu kendala paling serius yang ditemukan yakni mandeknya regenerasi petani di Klaten.

Menurut Sekertaris Wantimpres IGK Manila mengungkapkan, kunjungannya Klaten untuk mencari masukan yang akan disampaikan kepada presiden agar dalam mengeluarkan kebijakan tepat sasaran di bidang pertanian.

“Temuan kita di Klaten ini, banyak petani yang berusia di atas 50 tahun. Sedangkan anak-anak mereka tidak mau melanjutkan profesi sebagai petani seperti orangtuanya. Karena alasan penghasilan yang rendah,” jelasnya, Kamis (10/9/2015) seusai melakukan dialog dengan para ketua kelompok tani di Desa Sumber, Kecamatan Trucuk.

Di sisi lain, Ketua Kelompok Tani Bakti Tani Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Sukisman (73) juga membenarkan terkait sedikitnya pemuda yang berprofesi sebagai petani.

“Di kelompok saya ada sebanyak 123 petani yang 75 persen usianya sudah di atas 50 tahun. Sedangkan sisanya antara 30 sampai 40 tahun,” jelasnya.

“Kebanyakkan anak-anak para petani anggota saya enggan untuk membantu orangtuanya di sawah. Sehingga harus memanggil buruh tani dengan biaya Rp60 ribu per hari. Itu yang membuat pendapatan para petani menurun karena harus membayar buruh tani,” ungkapnya.

Sukisman melanjutkan, pendapatan para petani untuk lahan sawah satu patok atau seluas dua ribu meter persegi hanya berkisar Rp2,5 jutaan setiap kali panen.

“Biasanya harga jual gabah yang dihasilkan dari luas sawah satu patok sekitar Rp4,5 juta. Itu dipotong untuk biaya pupuk, bibit dan buruh tani kurang lebih Rp2 jutaan…Padahal panen petani itu satu tahun hanya dua kali saja,” urainya.

Dani Prima