JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Resapan Air Cegah Rumah dari Ancaman Banjir

Resapan Air Cegah Rumah dari Ancaman Banjir

73
Warga melihat kondisi rumah yang terkena banjir karena luapan sungai Kali Mati di Pandeyan Ngemplak Boyolali, Kamis (23/04/2015). Luapan air sungai masuk ke pemukiman warga dengan ketinggian mencapai dada orang dewasa. Foto: Joglosemar/Maksum Nur Fauzan
Ilustrasi: Joglosemar/Maksum Nur Fauzan

KETIKA musim hujan tiba, ancaman banjir sekarang ini bisa terjadi di manapun.

Banjir yang terjadi akibat air hujan yang tak terserap oleh tanah. Sehingga air hujan langsung menuju ke sungai dan ketika sungai tak mampu menampung maka akan meluber dan menyebabkan banjir.

“Sekarang daerah yang sebelumnya aman, bisa saja terkena banjir,” ujar Dosen Pasca Sarjana Ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dr Prabang Setyono S.Si,M.Si.

Dikatakannya, idealnya, setiap rumah memiliki lahan resapan air. Namun, di kota besar banyak rumah yang semuanya ditutupi oleh semen, sehingga air tak bisa terserap oleh tanah secara langsung. Air hujan langsung menuju ke selokan atau sungai.

Ketika selokan, saluran air dan sungai tak mampu menampung curahan air hujan, maka akan timbul banjir. Namun, akan lain kondisinya, ketika ada resapan air, air hujan tidak langsung menuju ke saluran air, melainkan akan ditampung di resapan tersebut dan terserap menjadi air tanah.

Diungkapkannya, dalam membuat rumah ada baiknya apabila juga memperhatikan resapan air. Resapan air ini fungsinya untuk menabung air, menghindari banjir dan lainnya.

“Yang sekarang sudah terkenal pembuatan biopori di perumahan, tetapi ini juga belum banyak yang melakukan,” katanya.

Diungkapkannya dalam membangun rumah, sebaiknya ada sisa lahan yang tidak ditutup dengan semen. Setidaknya 30 persen lahan dibiarkan tetap terbuka sebagai daerah resapan air.

Ketika air hujan jatuh ke tanah dan terserap kembali oleh tanah, maka akan menjadi air tanah yang bisa difungsikan. Ketika setiap satu rumah terutama di daerah perkotaan menyediakan 30 persen lahannya untuk penyerapan air, maka bukan tidak mungkin banjir yang kerap terjadi setiap tahun bisa dihentikan.

Tri Sulistiyani

BAGIKAN