JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Rupiah Anjlok, Produsen Tahu di Klaten Was-Was

Rupiah Anjlok, Produsen Tahu di Klaten Was-Was

121
BAGIKAN
NAIK-  Salah seorang pengrajin tahu di Dusun Purwogondo Kelurahan Kartasura sedang memotong tahu, beberapa waktu lalu. Joglosemar|Murniati
Ilustrasi. Joglosemar|Murniati

KLATEN – Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar tidak hanya dirasakan industri besar, industri menengah seperti di kawasan sentra industri tahu di Desa Karangnongko, Kecamatan Klaten Utara. Para produsen tahu di kawasan ini mengaku was-was karena rupiah terus anjlok.

Menurut seorang produsen tahu, Djimo Marto Sutrisno (55) warga Dusun Pandean, Karangnongko, Klaten utara ini. Ia merasa was-was bila rupiah terus anjlok sehingga membuat harga kedelai semakin tinggi.

“Saat ini harga kedelai sudah mengalami kenaikan sebesar Rp 400 hingga Rp 500 perkilonya dari harga awal Rp 6.700 perkilo menjadi Rp 7.100 perkilo,”tuturnya, Selasa (15/9/2015).

Namun, kenaikan harga kedelai tersebut belum mempengaruhi harga jual tahu. Menurut Djimo, para pengrajin tahu di Desa Karangnongko mengakalinya dengan menyusutkan ukuran tahu produksinya.

“Dari yang semula ukuran 4×4 sentimeter jadi 3×3 sentimeter dengan ketebalan hingga tiga sentimeter,”jelasnya.

Marto juga mengatakan naiknya harga kedelai itu juga berdampak pada permintaan. Pada hari-hari sebelumnya setiap tengkulak membeli rata-rata sepuluh masak tahu sedangkan saat ini para tengkulak hanya mampu mengambil lima masak tahu setiap harinya.

“Permintaan menurun, bahan baku meningkat, itu yang membuat perajin pusing,” imbuhnya.

Pria yang sudah puluhan tahun menjadi perajin tahu ini juga berharap agar harga kedelai kembali normal seperti hari-hari sebelumnya.

“Kalau begini terus kami takut kalau nanti gulung tikar, kasihan para pekerja kami jika nantinya nganggur,”tuturnya.

Disisi lain, Ketua Paguyuban Perajin Tahu Sari Putih Dusun Pandean, Suprapto (47) mengatakan Kenaikan harga kedelai ini sudah saya rasakan sejak dolar naik Rp13.800. Sekarang sudah naik lagi sebesar Rp 14.000. Namun sejauh ini masih bias diatasi oleh para pengrajin dengan menyusutkan ukuran tahu.

Suprapto melanjutkan, naiknya harga kedelai itu juga berdampak pada permintaan. Pada hari-hari sebelumnya setiap tengkulak membeli rata-rata sepuluh kotak tahu yang telah di masak yang isinya perkotak kurang lebih 50 biji tahu. Sedangkan saat ini para tengkulak hanya mampu mengambil lima kotak tahu yang setiap harinya.

“Permintaan menurun, bahan baku meningkat, itu yang membuat perajin was-was tidak bias membuat tahu lagi,”ujarnya.

Menurutnya, selain karena faktor melemahnya rupiah, kenaikan harga kedelai juga karena permainan dari para spekulan yang menaikkan harga.

“Jika pemerintah mampu mendorong petani untuk menanam kedelai dengan baik, maka harga tinggi seperti kali ini tidak mungkin terjadi. Perajin itu membeli kedelai impor karena hasil produksinya lebih baik dibandingkan kedelai lokal,”pungkasnya.

Dani Prima

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here