JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Sapi Asal TPA Piyungan Sebaiknya Tidak Dikonsumsi

Sapi Asal TPA Piyungan Sebaiknya Tidak Dikonsumsi

81
BAGIKAN
Ilustrasi
Ilustrasi

JOGJA- Jelang hari raya Idul Adha, kesehatan dan keamanan hewan kurban menjadi perhatian Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul.

Salah satu yang menjadi perhatian di Bantul adalah adanya sapi yang hidup dari sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.

Kepala Dispertahut Bantul, Partogi Dame Pakpahan mengungkapkan memang masih banyak sapi yang digembalakan di kawasan sampah dan mengkonsumsi sampah.

Meski begitu sampah yang dikhawatirkan berbahaya jika dikonsumsi sapi hanyalah sampah anorganik.

“Kalau sapi-sapi mengkonsumsi sampah organik no problem, tapi masalahnya jika sapi-sapi mengkonsumsi sampah anorganik,” katanya pada Rabu (9/9/2015).

Sapi tidak akan terlalu bermasalah jika sampah yang dikonsumsi merupakan sayuran, namun akan bermasalah jika yang dikonsumsi berupa sampah plastik ataupun kertas yang menurutnya bisa mengandung limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).

“Kalau konsep pembuangan sampah baik dan benar tidak mungkin ada limbah B3 di TPA Piyungan, menurut UU tidak boleh itu dibuang di TPA,” ujarnya.

Meski begitu, Partogi meyakinkan masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya sapi di TPA akan mengkonsumsi sampah yang berbahaya.

Pasalnya, sapi sendiri menurutnya masih bisa memilah makanan apa yang bisa dimakannya dan tidak. Namun, demi keamanan, menurutnya sapi dari TPA tidak selayaknya dipakai untuk hewan kurban.

“Secara insting sapi tidak akan mungkin memakan plastik hitam, prinsipnya kami tidak merekomendasikan sapi dari Piyungan dijadikan hewan kurban,” tuturnya.

Untuk memastikan kondisi kesehatan hewan kurban di Bantul, Dispertahut menurutnya akan melakukan pelatihan pemotongan hewan kurban yang benar dan sehat.

Selain itu pemantauan kesehatan hewan kurban juga telah dilaksanakan sejak jauh-jauh hari untuk menghindari adanya penyakit berbahaya pada hewan yang beredar termasuk kemungkinan sapi yang kemungkinan tercemar sampah berbahaya beredar.

“Apabila ditemukan hewan kurban yang tidak sehat harus direturn,” ujarnya.

Tribun Jogja | Anas Apriyadi