JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Stres Bisa Picu Rasa Nyeri

Stres Bisa Picu Rasa Nyeri

87
BAGIKAN
Ilustrasi: dok Soloblitz
Ilustrasi: dok Soloblitz

NYERI dikenal sebagai gejala sebuah penyakit.  Namun, tidak semua nyeri itu selalu ada kaitannya dengan fisik seseorang.

Secara psikologis dan fisiopatologis, proses nyeri dapat dibagi menjadi tiga. Pertama, adanya kerusakan jaringan akibat penyakit misalnya kanker, penyakit otot, dan lain-lain atau disebut juga nosiseptif.

Kedua, nyeri akibat aktivitas abnormal susunan saraf yang disebut nyeri neuropatik. Ketiga adanya gangguan psikis yang mendasari sebab timbulnya nyeri disebut nyeri psikogenik.

Khusus mengenai nyeri psikogenik, Psikolog RS PKU Muhammadiyah Solo, Fitria Sari Budiningtyas, Spsi, Psi, MM mengatakan, sebenarnya nyeri bukan hanya gejala sakit dan abnormalitas dari fungsi tubuh, melainkan juga timbul akibat konflik-konflik psikologis yang tidak terselesaikan dengan baik.

“Pernah ada kasus seorang pasien pria berusia 38 tahun melakukan konsultasi di poliklinik spesialis syaraf di sebuah RS. Dia mengeluhkan menderita sakit kepala sekitar 10 tahun terakhir. Dia sudah berkeliling ke sejumlah dokter spesialis syaraf tapi tidak sembuh. Pemeriksaan melalui laboratorium dan Magnetic resonance imaging (MRI) tidak menunjukkan kelainan syaraf,” katanya.

Akhirnya pasien dirujuk ke psikolog. Dan hasilnya memang pasien menderita nyeri psikogenik.  Fitria menjelaskan, diagnosis yang akurat memang memerlukan pemeriksaan neurologis dan psikiatrik secara menyeluruh. Ini didasarkan atas faktor psikologis yang jelas berhubungan dengan rasa nyeri.

“Kasus seperti ini sebenarnya banyak ditemukan di masyarakat dengan ditandai adanya nyeri pada kondisi stres,” tandasnya.

Kenapa stres dan tekanan emosi bisa menimbulkan efek nyeri? Dalam ilmu psikiatri, nyeri psikogenik merupakan mekanisme coping yakni adaptasi mental yang digunakan seseorang untuk mengatasi masalah. Nyeri  timbul akibat penekanan konflik psikis yang tidak bisa ditolerir.

“Konflik psikis ini memicu keluarnya hormon stres di dalam tubuh dan nantinya memicu perubahan sisem syaraf otonom dan hormonal dalam tubuh. Pengaruh perubahan inilah yang memicu timbulnya nyeri,” ujarnya.

Pada kondisi tertentu, depresi dan cemas dapat meningkatkan sensitivitas nyeri, terutama pada pasien lansia. Selain disebabkan h kecemasan/ stres, nyeri juga timbul bersamaan dengan penyebab lainnya. Oleh karena itu, perlu dieksplorasi dengan baik dan mencari penyebab lainnya.

Murniati