Tingkat Kekerasan Seksual kepada Anak di Wonogiri Masih Tinggi

Tingkat Kekerasan Seksual kepada Anak di Wonogiri Masih Tinggi

287
Ilustrasi
Ilustrasi

WONOGIRI- Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan korban anak di Kabupaten Wonogiri terbilang tinggi. BKKBN kabupaten Wonogiri mencatat dari tahun 2013 hingga tri wulan ketiga tahun 2015 tercatat 82 anak menjadi korban.

“Kekerasan terhadap anak di Wonogiri memang tinggi,” ujar Kepala BKKBN Kabupaten Wonogiri Reni Retnowati

Reni mengungkapkan sebagian besar KDRT dengan korban anak-anak di dominasi tindak kekerasan seksual. Kekerasan fisik hanya tercatat 5 kasus.

“Sebagian besar didominasi kekerasan seksual, tapi kasus asiva ini yang paling tragis karena dari sekian kasus yang masuk dia satu satunya korban yang usianya masih balita,” ujar

Reni berjanji akan mengawal kasus asiva. Ia berharap kekerasan terhadap anak tidak terulang. “saya harap kekerasan terhadap anak tidak terulang lagi, untuk kasus asifa kami akan terus melakukan pendampingan,”katanya

Baca Juga :  Baru Bebas Empat Bulan, Warga Nusukan Kembali Ditangkap Karena Simpan Sabu di Indekos

Namun demikian ia mengaku heran angka kekerasan terhadap anak masih tinggi. Sebab pihaknya getol melakukan sosualisasi perlindungan anak dan perempuan baik dengan tokoh masyarakat maupun pelajar di tingkat sekolah menengah hingga sekolah dasar. Sosialisasi telah dilakukan pihaknya sejak tahun 2009. Tahun 2014 pihaknya melakukan sosialisasi di 14 kecamtan.

Selain itu di 25 kecamatan yang ada di Kabupaten Wonogiri juga telah terbentuk Pusat pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2). Lembaga tersebut sebagai kepanjangan tangannya untuk melakukan pencegahan dan mendeteksi kasus KDRT dalam masyarakat.

Baca Juga :  Reaksi DPRD Sragen Mendengar Banyak Ibu Melahirkan di Jalan Gilirejo Baru

Reni menambahkan rata-rata korban enggan melapor. Pelapor biasanya adalah teman dekat bahkan tetangga korban. “Korban rata-rata tidak tau harus melapor kesiapa dan malu untuk melaporkan. Apalagi kebanyakan kasus kekerasan seksual,” katanya

Sri Sundarini psikolog yang turut menangani Asifa mengungkapkan kekerasan terhadap berpeluang besar menimbulkan traumabahhkan trauma dapat dialami seumur hidup jika tidak lekas mendapat penanganan. Secara sederhana Sri Sundarini mengatakan trauma dapat dilihat dari kecemasan dan ketakutan yang muncul dafri perlikau korban.

Katanya rata-rata korban kekerasan yang mengalami trauma akan menarik diri dan sulit berkomunikasi. “Jika perlu terapi maka akan kami bawa ke rumah aman. Lamanya terapi tergantung psikis anak,” katanya.

Arief Setiyanto

BAGIKAN