JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Tingkat Kunjungan di Perpustakaan Daerah Solo Masih Rendah

Tingkat Kunjungan di Perpustakaan Daerah Solo Masih Rendah

103
BAGIKAN
Seorang pengunjung tengah memilih buku di Perpustakaan Umum Daerah Kota Solo | Joglosemar/Kurniawan Arie
Seorang pengunjung tengah memilih buku di Perpustakaan Umum Daerah Kota Solo | Joglosemar/Kurniawan Arie

SOLO – Meski bertepatan dengan Hari Kunjung Perpustakaan, namun jumlah pengunjung Kantor Arsip dan Pepustakan Daerah (Arpusda) terbilang minim.

Komisi IV DPRD Kota Solo menilai, upaya sosialisasi ke masyarakat belum optimal. Layanan yang disediakan pun terbatas.

Hal itu merupakan temuan Komisi IV DPRD Kota Solo dalam inspeksi mendadak (Sidak) di Arpusda, dalam rangka Hari Kunjungan Perpustakaan, Senin (14/9/2015).

Anggota Komisi IV Reny Widyawati mengatakan, kondisi Arpusda khususnya di layanan perpustakaan masih jauh dari ideal. Dia membandingkan dengan pengelolaan Perpustakaan Daerah di Kota Malang.

“Penataan di sini belum mengakomodasi semua elemen masyarakat. Saya lihat akses difabel belum ada. Pembaca dari usia anak belum digarap dengan baik. Di Malang, perpustakaan hadir dengan konsep ramah anak,” kata dia.

Konsep ramah anak itu diaplikasikan dengan menggabungkan antara perpustakaan dengan taman bermain. Setiap anak yang ingin masuk ke area permainan itu wajib meminjam buku untuk dibawa pulang. Koleksinya pun mencapai ratusan ribu judul dari beragam kategori. Tak hanya buku, mereka juga disediakan ruang untuk menyaksikan film edukasi yang beragam.

“Mestinya perpustakan menjadi tempat  menyenangkan untuk disinggahi. Memang setelah pembangunan gedung baru, Arpusda masih berbenah. Namun, semestinya dibarengi dengan upaya promosi yang gencar. Percuma gedung bagus, tetap nggak ada yang datang,” ungkapnya.

Kepala Kantor Arpusda Sis Ismiyati beralasan pihaknya masih berbenah pascakepindahan dari kantor lama di Kepatihan, Jebres akhir tahun lalu. Minimnya personil dan keterbatasan koleksi buku, menurutnya menjadi bagian kendala pengembangan perpustakaan.

“Kami memang belum bisa menyamai pengelolaan di Malang, tetapi tetap berupaya mengarah ke sana. Tahun depan, kami berencana mengajukan tujuh personel baru yang terdiri dari tiga pendongeng dan empat pe-resensi buku asing,” paparnya.

Saat ini pihaknya hanya memiliki 21 pegawai negeri sipil (PNS) dan sejumlah tenaga outsourcing. Jumlah tersebut harus dibagi untuk pelayanan perpustakaan dan arsip daerah.

Dini Tri Winaryani