JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Tolak Eksekusi, Seniman Gelar Tolak Balak di Radya Pustaka

Tolak Eksekusi, Seniman Gelar Tolak Balak di Radya Pustaka

126
BAGIKAN
Museum Radya Pustaka | Ilustrasi: Kurniawan Arie
Museum Radya Pustaka | Ilustrasi: Kurniawan Arie

SOLO– Para seniman dan budayawan Surakarta berkumpul di halaman Museum Radya Pustaka di hari eksekusi lahan Sriwedari, Selasa (29/9/2015). Mereka menggelar berbagai macam pertunjukan budaya maupun treatikal sebagai bentuk solidaritas terhadap kasus Sriwedari agar kembali dikelola Pemerintah Kota (pemkot) Surakarta untuk ruang publik.

“Saya merasa prihatin dengan kondisi Sriwedari dalam hal ini Musuem Radya Pustaka yang mau dirobohkan. Kan museum ini merupakan museum tertua di Indonesia yang dibangun oleh Raja Keraton Kasunanan Surakarta Paku Buwono (PB) X,” ujar salah satu seniman Surakarta, Srihadi, Selasa (29/9/2015).

Pihaknya juga menampilkan pertunjukan atau ritual yang diberi nama “Sesaji Radya Pustaka”. Yang mana dengan harapan semua masyarakat Solo tentang heritage cagar budaya tentang Taman Sriwedari bisa terselamatkan sebagai ruang publik bagi siapa pun yang menguasai.

Taman Sriwedari ini punya sejarah, yang mana ini dibuat PB X dengan mengadopsi cerita pewayangan pada suatu tempat di kayangan lalu diturunkan menjadi ruang publik masyarakat.

“Ritual ini merupakan hasil renungan sejak dua bulan lalu tentang Taman Sriwedari selama ini, yang mana mencoba merefleksikan kepedihan dan keprihatinan saya. Jangan sampai ini dibongkar hanya untuk kepentingan sesaat, disini itu sarat dengan sejarah,” kata Dosen ISI Surakarta ini.

Dalam pertunjukan ini, dirinya menutup Patung Ronggowarsito dengan kain warna putih. Itu sebagai simbol keprihatinan, yang mana sesuatu yang baik, bersih, suci dan banyak memberi edukasi bagi masyarakat secara turun temurun tiba-tiba akan dieksekusi begitu saja.

Berkumpulnya para seniman dan budayawan ini sebagai bentuk solidaritas untuk menyelamatkan Taman Sriwedari yang merupakan kawasan cagar budaya ini.

“Tadi kami juga melakukan tolak bala untuk kawasan Sriwedari ini. Yang jelas ini bentuk kepedulian dan solidaritas kami terhadap taman Sriwedari ini,” ungkapnya.

Sementara itu Mitra Museum Radya Pustaka, Teguh Prihadi menyatakan jika kedatangan mereka itu secara spontan dan menampilkan pertunjukan budaya. Karena mereka merasa kehilangan jika nantinya taman Sriwedari ini sampai diekseksusi.

“Ada puluhan seniman dan budayawan yang datang kesini, mereka datang secara spontan tidak diundang. Kami juga merasa memiliki dan merasa kehilangan jika dieksekusi,” paparnya.

Teguh menambahkan, berkumpulnya mereka juga untuk dukungan agar Sriwedari tetap berdiri dan menjadi ruang publik.

“Ini sebagai bentuk dukungan kami agar Sriwedari tetap dikelola Pemkot dan menjadi ruang publik,” tandasnya.

Ari Welianto