Udaranya Bersih, Abu Bakar Baasyir Merasa Nyaman di Lapas Nusakambangan

Udaranya Bersih, Abu Bakar Baasyir Merasa Nyaman di Lapas Nusakambangan

108
Abu Bakar Ba'asyir
Abu Bakar Ba’asyir

CILACAP  – Terpidana kasus terorisme ustaz Abu Bakar Ba’asyir mengatakan bahwa udara di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, paling bersih jika dibanding lapas lainnya.

“Di (Lapas) Batu dan Pasir Putih memang situasi udaranya paling bersih. Semua lapas di Nusakambangan ini, udaranya lebih baik jika dibanding di kota-kota karena di sini bersih tapi yang paling fleksibel di Pasir Putih,” katanya usai melaksanakan Salat Iduladha di halaman dalam Lapas Kelas I Batu, Pulau Nusakambangan, Kamis (24/9/2015).

Ia mengaku telah dua kali melaksanakan Salat Id di Lapas Batu, Nusakambangan, sejak dipindah dari Rumah Tahanan Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia pada tanggal 6 Oktober 2012.

“Saya dua kali (Salat Iduladha) di sini. Pertama, dulu waktu baru pindah, saya (Salat Id) di sini,” jelasnya.

Dalam hal ini, Ba’asyir yang menghuni Lapas Batu sejak 6 Oktober 2012 dipindah ke Blok D Lapas Pasir Putih, Nusakambangan, pada tanggal 15 Januari 2013.

Karena di Lapas Pasir Putih sedang ada renovasi berupa perbaikan atap di Blok D, Ba’asyir dan dua terpidana kasus terorisme untuk sementara dititipkan di Lapas Batu sejak 5 September 2015.

Selain itu, sembilan terpidana kasus terorisme lainnya yang menghuni Blok D Lapas Pasir Putih untuk sementara juga dititipkan ke empat lapas lain di Nusakambangan, yakni Lapas Kembangkuning, Lapas Permisan, Lapas Besi, dan Lapas Narkotika.

Lebih lanjut, Ba’asyir mengatakan bahwa perpindahan dari Lapas Batu ke Lapas Pasir Putih dan kembali lagi ke Lapas Batu merupakan kehendak Allah SWT.

“Kalau dipindah-pindah, semua yang menentukan Allah, bukan manusia, saya mesti terima dengan rela, dengan ikhlas. Kalau nyaman, nyamannya, ya, di rumah. Paling nyaman di surga,” katanya.

Disinggung mengenai upaya hukum yang sedang dilakukan, dia mengaku akan mengajukan peninjauan kembali (PK) karena vonis yang dijatuhkan kepadanya sangat tidak adil dan merupakan fitnah.

Menurut dia, keterlibatannya dalam pelatihan militer di Aceh karena urusan agama dan perannya hanya ikut mencarikan dana dari luar.

Ia mengaku tidak kuat jika harus ikut melatih dalam pelatihan militer dan tidak punya pengetahuan tentang persenjataan.

“Maka, peranan saya hanya itu (ikut mencarikan dana dari luar, red.). Akan tetapi, orang yang peranannya ikut melatih dan segala macam, diputuskan (vonis, red.) di bawah saya. Saya kena 15 tahun, jadi tidak adil,” tegasnya.

Seperti diwartakan, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 15 tahun penjara kepada Abu Bakar Ba’asyir. Atas putusan itu, yang bersangkutan mengajukan banding.

Akan tetapi, di tingkat banding, Pengadilan Tinggi Jakarta memutuskan hukuman 9 tahun penjara untuk Ba’asyir.

Di tingkat kasasi, Mahkamah Agung (MA) membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 332/Pid/2011 PT.DKI pada bulan Oktober 2011.

Dalam hal ini, MA membatalkan putusan hukuman 9 tahun penjara dan kembali pada putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, yakni 15 tahun penjara.

Oleh karena itu, Ba’asyir berencana mengajukan PK atas vonis 15 tahun penjara tersebut.

Dalam kasus tersebut, Ba’asyir dinyatakan bersalah karena terbukti merencanakan atau menggerakkan orang lain dengan memberikan dananya untuk kegiatan pelatihan militer di Pegunungan Jantho, Aceh Besar.

Dana yang terbukti dihimpun Ba’asyir sejumlah Rp350 juta dengan perincian Rp150 juta didapat dari Haryadi Usman dan Rp200 juta dari Syarif Usman serta sebuah “handycam” dari Abdullah Al Katiri.

Antara | Sumarwoto

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR