JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Ukuran Tahu dan Tempe di Pasaran Makin Kecil

Ukuran Tahu dan Tempe di Pasaran Makin Kecil

66
HARGA TINGGI- Harga kedelai yang melambung tinggi sepekan terakhir, membuat pengrajin maupun pedagang tempe terancam gulung tikar, Minggu (25/8). Joglosemar|Ario Bhawono
Ilustrasi:  Joglosemar|Ario Bhawono

SOLO-Sejumlah pengusaha dan pedagang tempe dan tahu di Pasar Legi mengeluhkan semakin naiknya harga kedelai impor.

“Saat ini harga kedelai impor mencapai Rp 60 ribu untuk 100 kilogram. Padahal sebelumnya hanya Rp700 ribu per 100 kilogram. Kalau belinya eceran harganya bisa mencapai Rp8.500 per kilogram,” ungkap Nyonya Slamet, pengusaha sekaligus penjual tempe bungkus daun pisang di Pasar Legi.

Ia mengaku tidak bisa menaikkan harga tempe yang dijualnya. Menurutnya, hampir semua pelanggannya menolak jika harganya dinaikan. Karena itu dirinya terpaksa memperkecil ukuran tempe yang dibuatnya agar tidak mengalami kerugian.

“Harganya masih sama Rp250 per biji,” terangnya.

Lebih lanjut ia mengaku khawatir dengan semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Menurut dia, selain berdampak dengan harga kedelai impor, pelemahan rupiah juga berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat.

“Sebelumnya dalam satu hari saya menjual lebih dari 2.000 biji tempe bungkus daun pisang. Namun belakangan ini, dalam satu hari saya hanya menjual rata-rata 1.500 biji tempe daun pisang,” terangnya.

Sama halnya disampaikan Rusmini penjual tahu di Pasar Legi. Menurutnya, semenjak harga kedelai impor mengalami kenaikan, ukuran tahu yang dia beli dari pabrik tahu juga diperkecil.

“Tahu yang saya jual harganya tidak mengalami kenaikan. Namun, ukurannya agak sedikit diperkecil karena harga kedelai impor yang terus mengalami kenaikan,” ujarnya.

Satria Utama

BAGIKAN