Warga Sambungmacan Protes Keberadaan TKIT Az Zahra

Warga Sambungmacan Protes Keberadaan TKIT Az Zahra

372
Anak-anak belajar mewarnai | Ilustrasi: Joglosemar/Dipo Insan
Anak-anak belajar mewarnai di sekolahnya | Ilustrasi: Joglosemar/Dipo Insan

SRAGEN—Keberadaan Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT) Az Zahra di Dukuh Kenatan, Desa Karanganyar, Kecamatan Sambungmacan memicu polemik dan ketegangan antara pihak pengelola dengan warga setempat.

Warga mendesak pengelola segera angkat kaki, sebaliknya pengelola juga ngotot mengklaim sudah mengantongi rekomendasi RT maupun pemerintah desa.

Polemik itu terungkap menyusul aksi beberapa warga setempat yang mendatangi dan mengingatkan pengelola TKIT karena masih nekat beroperasi dan melangsungkan kegiatan belajar di TK tersebut, Senin (31/8/2015).

Salah satu warga Kenatan RT 11, Supri (49) menuntut penutupan lantaran lokasinya di dekat TK Pertiwi yang lebih dulu ada. Selain itu pendirian TKIT itu juga dianggap tidak pernah mendapat izin dan persetujuan warga. Warga khawatir kehadiran TKIT itu akan memicu kesenjangan dan mematikan TK Pertiwi yang susah payah diperjuangkan warga.

Baca Juga :  Duh, Tiap Bulan Ada 2 Ibu Rumah Tangga di Sragen Yang Terjangkit AIDS. Ini Penyebabnya..

“Apalagi dari 32 siswa di TKIT itu juga kebanyakan bukan anak sini. Kemarin ada lima siswa anak sini, tapi yang tiga keluar. Makanya apapun alasannya, warga minta TKIT ditutup. Terserah mau dipindah atau dikemanakan. Apalagi dari awal juga tidak pernah kulo nuwun ke warga,” timpal Setyo Winarno (41), warga lainnya.

Baca Juga :  Kecil-Kecil Nyuri Motor Tetangga, Remaja di Sragen Ditangkap Saat Hendak Menjual ke Warnet

Pembina Karang Taruna Dukuh Kenatan, Soenarto membenarkan ada rapat antara yayasan dengan warga yang difasilitasi Kades pada 28 Juli lalu di rumah Ketua RT 11, Radi. Dari rapat itu mengerucut pada kesimpulan warga tetap tidak setuju keberadaan TKIT apapun alasannya.

Salah satu pencetus TKIT Az-Zahra Kenatan, Haryanto mengklaim pendirian dan operasional TK-nya itu sudah mendapatkan izin dari lingkungan, yakni RT dan Pemdes setempat. Sebaliknya, pihaknya menyayangkan sikap sejumlah warga yang nekat mendatangi sekolah dan menghentikan paksa saat proses belajar mengajar masih berlangsung.

Wardoyo

BAGIKAN