Ini Dia, Al-Muqsith, Masjid Unik Tanpa Kubah

Ini Dia, Al-Muqsith, Masjid Unik Tanpa Kubah

41
2706 - Foto Feature - masjid-al-muqsith - Bogor
Tribunnews
TANPA KUBAH – Masjid Al-Muqsith di Jalan Raya Puncak KM 83, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang tanpa kubah.

Pengantar

Jika dilihat sepintas, tak ada yang menyangka kalau bangunan itu merupakan tempat ibadah bagi umat Muslim. Namun, bangunan yang berada di kawasan Jalan Raya Puncak KM 83, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini ternyata sebuah masjid.

—————————-

 

Orang tentu heran, karena tidak akan melihat kubah di Masjid Al-Muqsith tersebut. Yang menandakan bangunan itu adalah sebuah masjid yakni tulisan Masjid Al-Muqsith yang berada di depannya. Uniknya, masjid ini dinaungi oleh hamparan atap yang berbentuk payung.

Atap berwarna putih berbentuk payung ini didesain khusus agar terlihat indah. Pengurus Masjid Al-Muqsith, Muhammad Masykur menuturkan, tiang pancang bangunan ini terbut dari baja dan bahan pembuat payungnya didatangkan dari Australia.

Bahan payungnya pun sangat kuat, bahkan diinjak-injak orang pun tak akan robek atau jebol.

“Yang masangnya juga langsung orang Australia. Setahun dua kali dibersihkan, tapi itu yang membersihkannya khusus dari perusahaan pembersih gedung,” tutur Masykur.

Menurutnya, masjid tersebut dibangun pada tahun 2006 hingga selesai pada tahun 2008.

“Masjid ini diresmikan pada tahun 2009 oleh ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) yang waktu itu dijabat Hasyim Muzadi,” katanya.

Masjid tersebut didirikan dan dikelola oleh sebuah Yayasan Adnyadna Jawa Dwipa, Jakarta. Menurut Masykur, arti  nama Al- Muqhstih yakni Maha Adil, yang diambil dari Asmaul Husna.

Di dinding kiblat masjid itu juga dipasang ayat suci Al-Qur’an dari Surat Al-Qasas ayat 77. Kutipan ayat suci yang terbuat dari baja tersebut menceritakan tentang keseimbangan dunia dan akhirat.

“Masjid ini arsiteknya orang Jakarta. Kita juga gak tahu alasannya kenapa didesain seperti ini,” ungkapnya.

Masjid dua lantai yang mampu menampung 150 jamaah itu juga selalu menggelar Salat Jumat berjamaah. Selain atapnya yang berbentuk payung, masjid itu didesain dengan tidak menggunakan dinding di area tempat salatnya.

Lantai bawah untuk toilet pria dan wanita, lantai dua untuk area salat laki-laki, dan lantai tiga untuk area salat perempuan. Meski tidak berdinding, masjid itu tetap kokoh karena terdapat beberapa tiang pancang sebagai penahannya.

Terlebih, air pegunungan yang digunakan untuk air wudhu sungguh menyegarkan. Angin sejuk sangat terasa ketika mendirikan salat di masjid tersebut.  Tribunnews

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR