Anak Suka Corat-coret, Dukungan Orangtua Melesatkan Bakat Si Kecil

Anak Suka Corat-coret, Dukungan Orangtua Melesatkan Bakat Si Kecil

79
260616-yud-minggua-belajar menggambar (2)
MENGENAL BAKAT ANAK–Sejumlah anak sedang mengikuti lomba menggambar. Joglosemar | Mohammad Ayudha

ORANGTUA pasti ingin anaknya tumbuh dan berkembang menurut usianya. Bermain bersama kawan sebaya dan ceria. Tapi, pernahkah terlintas di benak Anda karena mempunyai anak yang spesial? Lebih suka menyendiri, bahkan cenderung menghindari keramaian.

Seperti yang dialami oleh Pak Lilik. Pria yang bekerja di sebuah penerbit buku di Solo ini sempat khawatir melihat perkembangan anak sulungnya, Kaira (5). Terutama, dalam hal bersosialisasi dengan kawan-kawan sebaya.

Pasalnya, saat anak-anak yang lain bermain di sekitar kompleks perumahan, Kaira justru lebih suka bermain sendiri di dalam kamar, di atas kasur tingkatnya. Lilik baru menyadari anaknya mempunyai bakat yang luar biasa setelah intens mengamati si kecil di rumah. Kaira lebih suka berlama-lama melihat gambar di buku yang sering ia belikan daripada bermain di luar.

Ketika diajak belajar mengenal bentuk benda, Kaira akan cepat menangkap nama benda dengan mewarnainya. Dari situlah, Lilik mulai menyadari kalau anaknya mempunyai kecerdasan visual.

Lalu, untuk lebih mengasah kepiawaian si kecil, Lilik mendaftarkan anaknya ke sanggar lukis. “Ternyata dia sangat istimewa, setelah ikut sanggar lukis, bakatnya terus terasah,” kata dia pada Joglosemar.

Prestasi Kaira pun mulai terlihat dari beberapa lomba mewarnai. Beberapa di antaranya berhasil meraih juara,  tingkat kabupaten. Dan, Kaira pun mulai berubah dari yang awalnya pendiam dan susah bersosialisasi menjadi anak yang lebih aktif dan berani.

Lain lagi dengan Bu Sinta yang masih bingung  mencari bakat anaknya, Alfi (3). Dia mengaku kalau anaknya juga sulit bergaul. “Dia lebih suka di rumah. Sambil ngintip-ngintip kalau ada suara anak-anak bermain di jalan. Di perumahan, yang cocok temannya cuma satu,” kata  wanita yang tinggal di Grogol, Sukoharjo ini.

Bu Sinta kini sedang berusaha menggali bakat si kecil. Alfi suka melihat buku-buku yang banyak gambarnya. Dia juga sering mencorat-coret dinding rumah. “Kalau di rumah dia sangat aktif, tapi kalau ke luar cenderung diam. Maunya ditemani sama mamanya. Saya masih bingung bagaimana mengarahkan anak saya,” kata dia.

 

Bimbingan

Sejatinya bakat si kecil sudah bisa diketahui ketika anak mulai bicara. “Sejak usia awal mulai bicara, bakat anak sudah bisa terlihat. Sementara, untuk motorik halusnya dari cara memegang pensil, menulis, menggambar atau anak suka menyanyi, suka mendengar sudah bisa dilihat sejak anak usia 1,5 tahun. Tapi ingat, selama perkembangan si anak normal,” kata Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rini Lestari.

Ketika mengetahui bakat si anak, sebaiknya lanjut Rini, orangtua mendorong untuk memfasilitasi bakat anak. “Misalkan anak suka menggambar, fasilitasi bakatnya agar tidak menggambar di sembarang tempat. Nah, supaya terarah, sediakan kertas, papan tulis, krayon atau media lain yang bisa mendukung,” kata Bunda Lestari, panggilan akrabnya, Kamis (23/6).

Ketika disinggung mengenai anak yang lebih suka menggambar di dinding, Rini menjawab bahwa kemungkinan si anak ingin diperhatikan. “Sebab, kalau  coretan di dinding itu dari kejauhan sudah kelihatan. Si anak ingin diperhatikan orang lain. Tetapi, selama orangtua memberikan arahan dan bimbingan, saya kira keinginan untuk mencoret-coret tembok bisa hilang,” kata wanita yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas psikologi UMS ini.

Selain memberikan media, orangtua juga harus memberi dukungan. Apabila ide yang ingin digambarkan anak dengan realisasinya berbeda jauh, orangtua jangan lantas mencelanya.

“Lebih baik orangtua memberikan apresiasi untuk anak. Dan, ketika mendampingi anak pun tidak hanya membimbingnya menggambar saja, tetapi bisa dengan ditambahi cerita, seperti mengenalkan bentuk-bentuk yang digambar.”

Selain itu, jika anak terlihat berbakat di bidang tertentu misal menggambar, orangtua bisa memasukkan si kecil ke sanggar. “Mulai usia 3 tahun sampai 4 tahun anak bisa dimasukkan ke sanggar,” pungkasnya.

Amrih Rahayu

 

BAGIKAN