JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Formalisme Beragama

Formalisme Beragama

64
BAGIKAN

3006 - Dok-Faizatul Ansoriyah (1)

Faizatul Ansoriyah

Bergiat di Bidang Sosial

Tinggal di Surakarta

————–

Euforia datangnya bulan Ramadan senantiasa dibarengi dengan banyaknya musik dan sinetron religi serta mode pakaian Islami. Wajah media baik elektronik maupun cetak sontak menjadi terkesan Islami. Nuansa religius juga tampak pada iklan yang mengedepankan sisi humanisme, yang tidak muncul selain di bulan Ramadan.

Hal yang tidak mau pula ketinggalan adalah maraknya kuliner yang siap memanjakan para penikmat makanan untuk berselancar sesuai dengan selera dan cita rasa mereka. Secara lahiriah hal ini sangatlah wajar, mengingat bahwa Ramadan adalah bulan yang istimewa dan selalu dinanti-nantikan. Bulan yang datang dan berakhirnya memerlukan sidang isbath yang tidak dilakukan di bulan lainnya.

      Masyarakat Islam saat ini terjebak dengan budaya populer. Pertanyaan yang muncul, apakah budaya populer dalam masyarakat Islam semakin memperkuat formalitas dalam beragama atau mampu memunculkan substansi dari keagamaan seseorang tersebut?

Meminjam istilah Cak Nun, bahwa masyarakat sekarang lebih memperhatikan bungkus daripada isi. Bungkus bisa diartikan sebagai sebuah formalitas sedangkan isi adalah substansi dari apa yang kita lakukan sebagai makhluk beragama. Formalitas berarti sebuah kegiatan yang dilakukan karena kebiasaan, tren ataupun bisa diartikan sebagai basa basi semata.

Formalisme ternyata bukan hanya dalam birokrasi atau pendidikan, tetapi juga sudah menggejala dalam kehidupan agama. Agama masih menyisakan tanda tanya, apakah dengan agama semua permasalahan umat dapat terselesaikan ataukah sebaliknya atas nama agama pula sejatinya orang menjadi bagian terhadap segala bentuk penindasan, diskriminasi serta hedonisme dalam kehidupan.

Budaya formalisme dapat juga di temui pada bulan-bulan selain Ramadan. Contohnya adalah, pertama, merebaknya penggunaan kata syariat yang mengikuti budaya pop mulai merambah tidak hanya di perbankan, hotel bahkan dalam sebuah mode berpakaian. Penggunaan label syariat menjadi tren dalam dunia bisnis.

Secara ekonomi hal ini tentulah tidak salah, karena cepat menangkap peluang di pasar adalah suatu keharusan. Menjadi sebuah kesalahan adalah ketika mengklaim penggunaan syariat hanya semata untuk  motif ekonomi. Kesalahan lanjutan yang bisa ditimbulkan lainnya adalah anggapan pembenaran diri sendiri ketika sudah menggunakan kata syariat serta menganggap hal lain yang tidak mencantumkan syariat adalah bertentangan dengan syariat itu sendiri.