JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Gabah Program MSP Bikin Kecewa Puluhan Petani…

Gabah Program MSP Bikin Kecewa Puluhan Petani…

118
BAGIKAN
DIBIARKAN MENUMPUK- Ketua Poktan Sedya Laras Taraman, Heru Purwanto saat menunjukkan tumpukan gabah hasil panen benih padi program MSP yang tidak jadi dibeli dan tidak laku ditebaskan, di rumahnya, Rabu (29/6).
DIBIARKAN MENUMPUK- Ketua Poktan Sedya Laras Taraman, Heru Purwanto saat menunjukkan tumpukan gabah hasil panen benih padi program MSP yang tidak jadi dibeli dan tidak laku ditebaskan, di rumahnya, Rabu (29/6).

SRAGEN– Puluhan petani penerima bantuan benih padi rintisan PDIP lewat program Mari Sejahterakan Petani (MSP) di Kecamatan Sidoharjo mengaku kecewa. Pasalnya konsep pemberdayaan dan pembelian padi jenis MSP yang diberikan dinilai tak seperti yang dijanjikan.

Kekecewaan utamanya dirasakan petani anggota Kelompok Tani Sedya Laras 2, Desa Taraman. Ketua Poktan Sedya Laras 2, Heru Purwanto (38) mengatakan Poktannya yang menerima bantuan benih padi MSP sebanyak 3 kuintal dari legislator PDIP sekitar bulan Februari silam. Benih itu dibagi ke 27 petani namun ketika ditanam hanya mendapat 10 hektare dari yang harusnya 30 hektare.

“Awalnya yang kulonuwun ke sini Pak Kaji Simin dan Pak Bayan. Intinya minta dicarikan petani untuk nanam bantuan padi MSP dan nanti hasilnya akan dibeli kiloan untuk benih lagi. Karena biasanya untuk benih itu harganya lebih, akhirnya petani mau,” paparnya kepada wartawan Rabu (29/6/2016).

Secara perkembangan, menurutnya pertumbuhan padi itu cukup bagus. Akan tetapi, persoalan muncul ketika menjelang panen, tak kunjung ada tindaklanjut bagaimana pembelian hasil panen. Hal itu diperparah dengan produksi yang dinilai jauh dari teori.

Sebab satu hektare lahan miliknya hanya dapat 3,5 ton gabah padahal jika ditanami padi jenis IR 64 atau Ciherang yang sudah biasa ditanam bisa dapat 8 ton. Petani sebelahnya, Tri Saimin bahkan setengah hektare padi MSP-nya juga tidak laku ditebaskan. Akibatnya, hampir semua petani yang menanam itu mengalami kerugian jutaan rupiah.

“Memang kemarin ada faktor cuaca juga, padinya tinggi lalu roboh. Kalau dihitung-hitung malah rugi. Biaya tanam dan pemeliharaan Rp 6 juta, biaya panen Rp 3,5 juta, hasile paling Rp 12 juta. Padahal kalau saya tanami padi varietas lain, bisa laku Rp 25 juta,” terangnya.

Terpisah, saat dihubungi wartawan, petugas penyalur benih padi MSP di Sidoharjo, Simin mengatakan panen itu tidak sesuai yang diharapkan lantaran para petani tidak menjalankan pemeliharaan sesuai SOP dan instruksi yang diberikan. Padahal pihaknya sama sekali tidak mencari keuntungan dari petani.

Dia juga mengatakan tidak pernah menjanjikan akan membeli pada petani terkait hasil gabah MSP. Pihaknya hanya akan membantu mencarikan pembeli gabah tersebut. ”Yang mau membeli resmi itu siapa oknumnya, ada perjanjian resmi atau tidak. Soalnya saat itu MSP belum punya DPP,  baru diresmikan di Cirebon beberapa waktu lalu,” terangnya. Wardoyo