JOGLOSEMAR.CO Opini Refleksi Kejahatan Vaksin Palsu

Kejahatan Vaksin Palsu

95
2506 - Vaksin palsu-1
Ilustrasi

          Negeri ini subur makmur dan kaya raya, sampai-sampai Koes Plus melukiskan bahwa  tongkat kayu dan batu pun bisa menjadi tanaman. Persis seperti di negeri dongeng, yang dapat menyulap apa saja menjadi sesuatu yang diinginkan.

          Namun sayangnya, Indonesia ini memiliki julukan baru yang mengusik pikiran, yakni sebagai surganya koruptor dan surganya Narkoba. Sebutan yang sebetulnya menyakitkan, namun tak dapat dihindari, karena julukan tersebut tidak hadir dengan sendirinya. Sebutan itu muncul lantaran didukung  data dan fakta.

          Di negeri ini, apa pun seolah dapat digunakan sebagai sarana untuk berbuat kejahatan.  Yang terbaru adalah kejahatan vaksin palsu, yang berhasil dibongkar oleh Mabes Polri. Herannya, kejahatan tersebut ternyata sudah berlangsung sejak tahun 2003 silam dan belum pernah terendus oleh aparat. Polisi berhasil meringkus 12 orang pelaku yang masing-masing berperan sebagai produsen, pengedar dan kurir.

          Kejahatan ini sangat membahayakan, karena menggunakan vaksin sebagai sarana untuk mengeruk keuntungan dengan cara-cara ilegal. Padahal kita tahu, perbuatan memalsu vaksin jelas akan berakibat buruk pada kesehatan seseorang.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus, Brigjen Agung Setya Imam Effendi mengatakan, hasil dari analisis dan kajian fakta,  bayi-bayi yang telah disuntik dengan vaksin palsu tersebut kondisinya tidak dalam kondisi baik (sakit). Kondisi ini bertentangan dengan tujuan pemberian vaksin, yang seharusnya membuat seorang anak menjadi kebal akan penyakit tertentu.

Hasil penyelidikan menyebutkan, vaksin palsu tersebut dibuat dengan cara menyuntikkan cairan infus dicampur dengan vaksin tetanus. Campuran dinilai  sangat membahayakan kesehatan seseorang. Brigjen Agung mencontohkan, anak polio disuntik dengan vaksin palsu tersebut malah bisa pincang.

Kondisi anak yang tak bersalah itu berkebalikan dengan keuntungan yang diperoleh  oleh pelaku.  Dalam seminggu, produsen vaksin palsu ini bisa meraup keuntungan rata-rata hingga Rp 25 juta, dan distributor meneguk Rp 20 juta per minggunya. Dan yang lebih mengherankan lagi, distribusi vaksin palsu tersebut bisa menembus apotek-apotek, sebagian rumah sakit dan klinik-klinik kesehatan.

Ini menunjukkan betapa kejahatan bisa menembus segala lini, termasuk dunia anak-anak. Kalau presiden pernah mengatakan Indonesia sedang darurat Narkoba, sebetulnya kondisi kejahatan yang memanfaatkan lini kesehatan seperti ini tak kalah parahnya. Bisa dibayangkan, betapa sakit dan kecewanya orang tua yang anaknya menderita penyakit tertentu lantaran kena tipu vaksin palsu.

Belakangan kita juga disuguhi berita dan fakta maraknya kejahatan seksual terhadap anak. Bahkan presiden menyebut, kejahatan seksual terhadap anak masuk golongan kejahatan luar biasa, hingga kemudian melahirkan Perpu Nomor 1 Tahun 2016 untuk melindungi anak-anak.

Belum reda kasus kejahatan seksual terhadap anak-anak, kini kejahatan justru mengarah pada bayi. Makhluk yang ibarat lembaran putih tanpa dosa itu telah dijadikan sasaran kejahatan yang keji. Dapat dibayangkan, dalam rentang puluhan tahun sejak 2003, berapa ribu bayi yang di dalam tubuhnya telah dimasuki vaksin palsu tersebut?

Karenanya, kejahatan vaksin palsu ini wajib diusut tuntas dan dibongkar seluruh sendi-sendi jaringannya. Kalaupun ada oknum medis yang terlibat di dalamnya, yang bersangkutan harus dijatuhi sanksi administrasi maupun hukum. Harapannya, sanksi setimpal dapat menjadikan efek jera bagi pelaku dan modusnya tidak akan berkembang luas. ***

 

BAGIKAN