JOGLOSEMAR.CO Opini Refleksi Mentaati Rambu-rambu

Mentaati Rambu-rambu

24
BAGIKAN
2806 - Water barier-1
Ilustrasi

Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Surakarta sampai-sampai habis kesabaran melihat sikap para pengguna jalan yang kurang bertanggung jawab. Salah satunya, barikade dan water barier yang baru dipasang beberapa hari, sudah berubah dari posisi semula.

Salah satu contohnya, menurut pantauan wartawan koran ini,  sejumlah water barier di kawasan Kerten sudah berubah posisi, sehingga menimbulkan celah yang sering digunakan pengendara sepeda motor untuk menyeberang jalan.

Sesuai fungsinya, keberadaan water barier dan barikade tersebut untuk menghindari adanya pengendara yang berbelok arah sembarangan, yang akhirnya bisa mengakibatkan kemacetan.

Kepala Seksi (Kasi) Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Dishubkominfo, Ari Wibowo bahkan sampai heran, water barier yang baru dipasang Sabtu (25/6), belum ada sepekan sudah berubah posisinya. Yang lebih mengherankan, water barier yang berat karena penuh terisi air itu tetap saja dipindahkan.

Dishubkominfo mengaku kesulitan menindak pelaku, karena tak bisa memberikan sanksi untuk membuat efek jera pelaku. Setiap kali menangkap tangan pelaku, petugas hanya berwenang memberikan pemahaman saja, dan beberapa hari kemudian  kasusnya terulang lagi.

Sebagaimana diketahui, mulai akhir pekan kemarin, hingga H+7 Lebaran nanti, Dishubkominfo memasang water barier dan barikade di tujuh ruas, dengan jumlah keseluruhan 400 unit barikade dan water barier.

Pemasangan water barier oleh Dishubkominfo tersebut  tentu memiliki alasan dan tujuan, dengan muara demi ketertiban, kelancaran dan keamanan berlalu lintas pengguna jalan.

Menjelang mudik hingga pasca lebaran, tentu jalanan Kota Solo yang selama ini sudah padat, tentu menjadi lebih padat oleh pemudik. Pengaturan oleh petugas, baik oleh Satlantas maupun Dishubkominfo tentunya harus didukung oleh semua pihak, termasuk masyarakat pengguna jalan.

Upaya tersebut perlu di-sengkuyung bersama, karena toh muaranya untuk kenyamanan dan keamanan pengguna jalan. Sebagaimana kita tahu, kecelakaan lalu lintas, biasanya bermula dari pelanggaran aturan.

Misalnya berbelok atau memotong jalan tidak memberi tanda, melaju dengan kecepatan melebihi ketentuan, melanggar rambu-rambu lalu lintas, menerobos palang kereta api, dan lain-lain. Hampir semuanya bermula dari pelanggaran rambu-rambu lalu lintas.

Budaya tertib berlalu lintas memang belum tumbuh pada diri masyarakat kita selama ini. Kita bisa ambil contoh, pembatas jalan tol yang terbuat dari beton yang sangat berat saja dapat didongkel, demi membuat celah untuk menyeberang sepeda motor.

Tentu masyarakat paham jalan tol merupakan jalur cepat yang berbahaya untuk penyeberang. Sebagai gantinya, ada tempat-tempat khusus untuk penyeberangan, yang dilengkapi dengan rambu-rambu agar lebih aman. Namun sering kali masyarakat kita tidak sabar dan cenderung main terabas, tanpa memperhitungkan faktor risiko di baliknya.

Mental main terabas seperti inilah yang perlu diperbaiki di masyarakat kita. Mereka butuh edukasi memadai dari para pejabat terkait agar taat pada aturan. Main terabas di jalan seperti ini jelas akan berisiko pada keamanan diri sendiri maupun orang lain.

Karena itu, sudah seyogyanya kita bersama ikut menciptakan suasana lalu lintas mudik yang nyaman dan aman. Jangan sampai suasana lebaran yang harusnya bernuansa gembira diwarnai dengan jatuhnya korban hanya karena salah satu dari kita tidak mengindahkan aturan dan rambu-rambu lalu lintas yang ada.  ****