Suka Duka Bisnis Jasa Penukaran Uang di Solo

    Suka Duka Bisnis Jasa Penukaran Uang di Solo

    79
    270616-yud-harian-lipsus-uang baru1
    Joglosemar | Muhammad Ayudha
    TUKAR UANG BARU—Penyedia jasa layanan penukaran uang baru menunggu pelanggan di jalan Jendral Sudirman.

    Jelang lebaran penjual jasa penukaran uang baru membanjiri jalan Slamet Riyadi kota Solo. Sebagai media promosi para penjual jasa membekali diri dengan poster kecil bertuliskan Jasa Penukaran Uang Baru yang di pasang di tepi jalan. Untuk menarik perhatian, tak jarang mereka mengipas-ngipaskan beberapa gepok uang kepada pengguna jalan yang melintas.

    Begitu pula yang dilakukan Nur Janah (45). Tak jauh dari simpang empat Nonongan, perempuan bertubuh subur dengan balutan kerudung abu-abu itu tampak mengipas-ngipas uang pecahan Rp 1.000 hingga pecahan Rp 20.000 setiap kali pengendara roda dua dan roda empat tampak hendak menepi.

    Baca Juga :  Pulang Dari Masjid, Pensiunan PNS Syok Lihat Tas dan Dompet Isi Jutaan Rupiah Digasak Maling..

    “Saya sudah 10 tahunan jual jasa seperti ini,” ujar warga Perumahan Penca RT 2/RW 24, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Minggu (26/6).

    Nur mengaku hanya menjalankan uang dari sang bandar  “jasa penukaran uang”.  Sayangnya Nur tak mau mengungkapkan identitas bandar. Katanya, kepercayaan menjadi modal utama untuk menjalankan bisnis musiman penukaran uang baru itu.

    Menurut Nur, tahun ini pengguna jasa penukaran tak seramai dulu. Dua tahun terakhir, pengguna jasa penukaran uang terus anjlok. Padahal dulu Nur mampu  “menjual uang”  hingga Rp 50 juta.  Namun dua tahun terakhir,  Nur hanya mampu menjual uang Rp 10 hingga Rp 20 juta saja.

    Baca Juga :  Tingkat Konsumsi Ikan Masih Rendah, Warga Trangsan Sukoharjo Galakkan Gemarikan dan Berdayakan Kolam

    “Sekarang sepi,  Mas. Karena banyak bank swasta juga melayani penukaran uang. Ini saja cuma di modali Rp 10 juta,” katanya.

    Dari tiap bendel uang pecahan senilai Rp 100 ribu, Nur mengaku jasa penukaran uang hanya lima persen.  Dari jumlah itu, yang tiga persen untuk sang bandar dan  yang dua persen menjadi jatahnya. Semakin mendekati lebaran Nur mengaku semakin berani menaikan tarif jasa hingga 10 persen, dengan nilai setoran pada bandar tetap.

    “Satu minggu jualan baru laku Rp 4,5 juta,” katanya.

    1
    2
    BAGIKAN