JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Tausiyah:Berkah (bagi) Si Miskin

    Tausiyah:Berkah (bagi) Si Miskin

    7
    BAGIKAN

    2706 - Mutohharun Jinan-2

    Dr Mutohharun Jinan

    Dosen UMS

    ————————

    Pemulung yang biasa lewat depan rumah tampak lebih bersemangat pada bulan Ramadan. Karung yang dipanggulnya setiap hari selalu terisi penuh barang-barang bekas dari tempat sampah.

    Katanya, yang paling banyak dikais pada Ramadan adalah kardus bekas bungkus nasi dan gelas plastik bekas air mineral. Bagi pemulung, Ramadan memang memberi nilai dan penghasilan lebih, bersamaan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat.

    Barangkali, bagi pemulung itulah yang dipahami sebagai “berkah Ramadan” jika kita tega mengatakan demikian. Setitik berkah yang sekejap melupakan keterjepitan hidup yang sudah bertahun-tahun dirasakan dan akan terus berlanjut selepas Ramadan.

    Bila ditelisik lebih jauh, apa yang orang miskin peroleh sebagai berkah rupanya itu hanya bagian dari sisa-sisa kegembiraan dari orang yang berkecukupan. Kegembiraan menyongsong datangnya berbuka bersama menjadi ungkapan sosial yang semarak. Kaum miskin mendapat limpahan kesemarakan itu keesokan harinya.

    Tampaknya begitulah ilustrasi yang menggambarkan kehidupan nyata. Bahwa kesejahteraan kaum lemah dan terlemahkan itu masih dalam bayang-bayang orang kaya. Orang-orang miskin dan mustadhafin tetap berada di pinggiran kelezatan hidup orang yang berkecukupan.

    Pada bulan Ramadan, kaum muslim disunnahkan memperbanyak sedekah dan beramal kebajikan kepada sesama. Ramadan dengan segenap kesemarakan ritual itu seharusnya mampu menjadi mekanisme yang bersifat reflektif untuk meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan.

    Oleh karena itu, di penghujung Ramadan, Rasulullah menganjurkan kaum Muslim untuk berbagi melalui zakat fitrah. “Zakat fitrah itu membersihkan orang yang berpuasa dari berkata kotor dan berbuat sia-sia, dan untuk memberi makan kepada orang-orang miskin.”

    Bagi pelaku tujuan dianjurkannya zakat adalah membersihkan daki-daki spiritual sebagai akibat terlepasnya pengendalian diri dari berkata-kata kotor dan perilaku yang sia-sia (lagha). Betapapun seseorang sudah berusaha sedemikian rupa mengendalikan diri dari perbuatan dosa, namun sebagai manusia tetap saja ada celah melakukan perbuatan sia-sia yang dapat merusak nilai puasa.

    Zakat fitrah harus dikerjakan sebelum salat Idul Fitri, mengindikasikan ibadah puasa sebagai ibadah pribadi pada kenyataannya tidak bisa dipisahkan dari dimensi sosial. Jangan sampai ada orang yang masih kelaparan pada saat kaum Muslim merayakan Idul Fitri.

    Jangan sampai pada saat tangan menengadah dan suara menyeru kebesaran Allah, mengumandangkan takbir sementara ruang batin hampa dari kepedulian terhadap kaum lapar. Dalam hal ini pula perlu memahamkan kaum miskin bahwa berkah Ramadan yang sebenarnya adalah beringsutnya mereka dari kubang kemiskinan.

    Berkah Ramadan tidak cukup hanya kegembiraan sesaat lantaran sisa-sisa kardus yang dukumpulkan kembali oleh pemulung. Lebih dari itu, berkah Ramadan harus menyadarkan bahwa lapar dan kelaparan yang disebabkan oleh ketimpangan sosial merupakan gejala penurunan derajat kemanusiaan paling buruk. n