JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Nasional Perkembangan Terbaru Setelah Pembakaran Vihara di Tanjungbalai

Perkembangan Terbaru Setelah Pembakaran Vihara di Tanjungbalai

182
BAGIKAN
ilustrasi kerusuhan
ilustrasi kerusuhan. Foto : Antara

TANJUNGBALAI – Tak ada yang perlu dibenci dan disalahkan atas peristiwa pembakaran dan pengerusakan beberapa vihara dan kelenteng di Tanjungbalai, Sumatera Utara, Sabtu (30/7/2016). Demikian diungkapan Pemuka Umat Buddha Kota Tanjungbalai, Leo Lopulisa.

“Kami tidak membenci atau menyalahkan siapa pun dalam peristiwa ini. Biarlah polisi yang mengusut kasus itu,” ujarnya di Tanjungbalai, Minggu (31/7/2016).

Menurut dia, “Ini hanya luka luar yang akan membuat kita makin dewasa, semakin kuat dalam menghadapi hidup beragama dan toleran dalam bermasyarakat.”

Banyak pihak yang menunjukkan rasa peduli, prihatin dan solidaritas atas kejadian itu, menunjukkan bahwa semua menginginkan kehidupan yang rukun dan saling menghargai satu sama lain, katanya.

“Pekerjaan masih banyak, lama dan panjang, menanti kita untuk menyelesaikan masalah ini secara arif dan bijaksana”, ujar Lopulisa.

Kondisi Vihara Tri Ratna yang rusak pasca kerusuhan yang terjadi, di Tanjung Balai, Sumatera Utara, Sabtu (30/7). Kerusuhan yang terjadi di Tanjung Balai pada Jumat (29/7) menyebabkan sejumlah vihara dan kelenteng rusak. ANTARA FOTO/Anton/im/NZ/16
Kondisi Vihara Tri Ratna yang rusak pasca kerusuhan yang terjadi, di Tanjung Balai, Sumatera Utara, Sabtu (30/7). Kerusuhan yang terjadi di Tanjung Balai pada Jumat (29/7) menyebabkan sejumlah vihara dan kelenteng rusak. ANTARA FOTO/Anton/im/NZ/16

Ketua Sang Agung Indonesia Sumatera Utara, Kurnia Bangun, berharap semua pihak menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran berharga untuk saling menghormati.

Umat Buddha, Konghuchu dan pemeluk agama lain diharap menahan diri serta tidak terprovokasi pernyataan yang mungkin ingin memecah belah kerukunan umat beragama yang terjalin baik selama ini.

Pascakerusuhan, banyak komentar di media sosial yang selain berisi keprihatinan, namun tidak sedikit pula bernada memojokkan, menghujat salah satu pihak, seperti ingin mempekeruh keadaan.

Demikian juga pernyataan tokoh tertentu di media massa, ada yang terkesan memelintir keadaan sehingga dikhawatirkan dapat memicu kebencian antarwarga.

“Kita secara keseluruhan harus bijaksana dan tidak mudah terprovokasi. Mari berpikir jernih demi terciptanya suasana yang kondusif”, imbau bikhu di Vihara Tri Ratna Kota Tanjungbalai itu.

Antara