JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten 54 Warga Klaten Tewas Akibat Penyakit AIDS

54 Warga Klaten Tewas Akibat Penyakit AIDS

1050
BAGIKAN

0612-remaja-dan-ancaman-aids

KLATEN—Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Klaten mencatat sebanyak 54 warga Klaten yang tewas karena penyakit AIDS hingga Desember 2016.

Terhitung 2016-2017 ini, ada 502 penderita HIV/AIDS di Klaten pada 2016-2017. Dengan, rincian 277 orang menderita HIV dan 255 orang menderita AIDS.

Sekitar 80 persen penderita HIV/AIDS diantaranya merupakan usia antara 20-39 tahun. Hal ini tak lepas dari penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual.

Oleh karena itu untuk mencegah penularan HIV/AIDS,  KPA Klaten mengimbau, agar warga Klaten yang berusia produktif mau mengikuti voluntary conseling and testing (VCT). Kini layanan VCT dapat diakses di sejumlah puskesmas rawat inap tingkat kecamatan.

Adapun puskesmas dengan layanan VCT meliputi Puskesmas Jogonalan 1, Puskesmas Pedan, Puskesmas Klaten Tengah, dan Puskesmas Delanggu.

Sedangkan pelayanan kesehatan di wilayah perkotaan yang memiliki VCT yakni RSUP dr Soeradji Tirtonegoro, RSJD dr Soedjarwadi, RSI Klaten, dan Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM).

Pelaksana Program KPA Klaten, Fauzi Rivai mengatakan, layanan VCT di RSUP dan RSJD tidak dipungut biaya sama sekali. Sedangkan di BKPM hanya membayar Rp 14.500 dan untuk Puskesmas menyesuaikan retribusi yang ditetapkan Pemkab Klaten.

Menurut Fauzi, perluasan layanan VCT di puskesmas kecamatan untuk memudahkan akses masyarakat dalam pencegahan penularan HIV/AIDS.

”Kami ingin layanannya tidak hanya di kota. Sedangkan puskesmas yang memiliki VCT karena tingkat temuan kasus di daerahnya tinggi serta banyak hot spot atau titik rawan penyebaran HIV/AIDS,” kata dia.

Selain tes VCT, KPA Klaten membentuk relawan untuk mencegah penularan HIV/AIDS di tingkat kecamatan melalui komunitas Warga Peduli AIDS (WPA).

Saat ini, sudah ada 32 komunitas WPA yang tersebar di 10 kecamatan mencakup Prambanan, Klaten Tengah, Klaten Utara, Ceper, Trucuk, Wonosari, Wedi, Pedan, Kebonarum, dan Jogonalan.

”Semacam desa siaga, sehingga ketika ada yang terdeteksi HIV/AIDS dapat dilakukan penanganan dengan cepat. Termasuk mencegah penyakit masyarakat yang berpotensi menularkan HIV/AIDS,” imbuh Fauzi.

Dani Prima