JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Ini Alasan Mengapa Untung Wiyono Emoh Dipanggil Mantan Bupati

Ini Alasan Mengapa Untung Wiyono Emoh Dipanggil Mantan Bupati

331
BAGIKAN
POSE BERSAMA- Duet mantan bupati Sragen, Untung Wiyono (kanan) dan Agus Fatchur Rahman (Kiri) bersama istri masing-masing saat berpose di acara slup-slupan rumdin Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati, Rabu (25/1/2017) malam. Joglosemar/Wardoyo
POSE BERSAMA- Duet mantan bupati Sragen, Untung Wiyono (kanan) dan Agus Fatchur Rahman (Kiri) bersama istri masing-masing saat berpose di acara slup-slupan rumdin Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati, Rabu (25/1/2017) malam. Joglosemar/Wardoyo

SRAGEN- Meski sudah lengser dari jabatannya sejak 2011 silam, mantan pemimpin Kabupaten Sragen dua periode, Untung Wiyono, tetap menolak dipanggil dengan sebutan mantan bupati. Ayah dari Bupati Sragen sekarang, Kusdinar Untung Yuni Sukowati itu, terang-terangan merasa tidak sreg dengan bahasa mantan yang dalam pemahamannya lebih identik dengan bekas.

Keengganan Untung dengan kata “mantan” itu diungkapkan ketika menghadiri slup-slupan atau boyongan putrinya menempati rumah dinas (Rumdin) bupati, Rabu (25/1/2017) malam. Untung yang hadir bersama istrinya, Ny. Suparmi berikut anak cucunya itu, langsung bereaksi ketika awak media meminta waktu untuk wawancara dan memanggilnya dengan sebutan mantan bupati.

“Mantan itu bekas. Supaya tahu, teman-teman wartawan. Ini istilah bahasa yang salah. Nggak ada di luar negeri itu Bahasa Inggris mantan. Bekas istri boleh ya,” ujarnya setengah berkelakar.

Ia kemudian melanjutkan bahwa dalam pandangannya penggunaan istilah mantan itu tidak bagus. Ia juga mengakui memang kurang berkenan jika disebut dengan istilah mantan bupati.

“Mantan itu bekas. Enggak bagus. Aku nggak berkenan kalau diceluk mantan. Bupati sepuh, nahh begitu,” ujarnya menuntun sebutan yang diinginkannya.

Ya, begitulah gaya komunikasi mantan pemimpin Sragen di era 2000-2011 itu ketika mencoba mencairkan suasana.

Termasuk malam itu, ia juga menebar banyak harapan terhadap kepemimpinan putri sulungnya agar bisa menjadi pemimpin Sragen yang lebih baik. Ia juga optimis putrinya bisa menjadi pemimpin yang menghayati amanah yang diberikan dan siap mengabdi kepada rakyat.

“Jadi pemimpin itu mencari masalah rakyatnya untuk bisa diselesaikan,” katanya. Wardoyo