JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar Ini yang Buat Keluarga Korban Tewas Diksar Mapala UII Lapor Polisi

Ini yang Buat Keluarga Korban Tewas Diksar Mapala UII Lapor Polisi

202
BAGIKAN
ilustrasi dan kronologi kejadian. Foto : Grafis Joglosemar
ilustrasi dan kronologi kejadian. Foto : Grafis Joglosemar

KARANGANYAR—Salah satu keluarga korban meninggal dalam kegiatan the great camping (TGC) atau pendidikan dasar (diksar) yang digelar oleh Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta di Tlogodlingo, Tawangmangu, Karanganyar, resmi melapor ke Polres Karanganyar.

Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak melalui Kasat Reskrim AKP Rohmat mengatakan,  yang melapor adalah keluarga korban Syaits Asyam (19), warga Jetis RT 13, Caturharjo, Sleman, DIY. Asyam meninggal pada Sabtu (21/1/2017) sekitar pukul 11.00 WIB di RS Bethesda Yogyakarta.

“Minggu pagi (22/1/2017) sekitar pukul 05.00 WIB kita resmi menerima laporan dari keluarga Syaits Asyam. Dan siangnya langsung kita diperintahkan oleh Kapolres untuk melakukan penyelidikan dengan melakukan autopsi terhadap jenazah korban di rumah sakit,” kata Rohmat, Senin (23/1/2017).

Ia menjelaskan, keluarga korban melaporkan adanya dugaan penganiayaan terhadap Asyam. Ia pun masih menunggu hasil autopsi dari pihak rumah sakit.

“Kita belum tahu hasil autopsinya dan saat ini masih menunggu. Dalam laporannya itu, keluarga curiga karena ada sejumlah luka di tubuh korban,” jelas Rohmat.

Saat ini, polisi sudah memasang police line di lokasi digelarnya diksar di daerah Tlogodlingo, Tawangmangu.

“Kalau lokasi lain selama masih ada izinnya tetap dibuka, karena itu wilayahnya Perhutani. Tapi untuk lokasi-lokasi yang digunakan oleh mahasiswa UII saat diklatsar masih kita pasangi police line,” papar Rohmat.

Waka ADM Perhutani KPH Surakarta, Haska mengatakan, pihaknya tidak menutup Gunung Lawu dari aktivitas pecinta alam pasca kejadian tersebut.

Pihaknya masih mengizinkan area Tlogodlingo digunakan untuk kegiatan seperti diksar dan lainnya. Yang terpenting, katanya, para peserta harus lebih berhati-hati dan menyiapkan fisik dan mentalnya.

“Kejadian itu di luar tanggung jawab kami. Saat ini izin berkegiatan masih kita buka,” kata Haska.

Salah Koordinator Anak Gunung Lawu (AGL), Budi mengaku, cuaca di lereng Gunung Lawu memang sedang ekstrem. Namun pihaknya meyakini kalau hanya untuk ngecamp masih relatif aman.

“Kalau hanya untuk ngecamp atau naik gunung masih cukup aman. Permasalahannya kalau diksar biasanya semi militer, sehingga kecapekan atau kelelahan di cuaca yang dingin itu bahaya,” ucapnya.

Rudi Hartono