JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Budaya ‘Setoran’ Bikin Resah, Saber Pungli Sragen Jadi Harapan

Budaya ‘Setoran’ Bikin Resah, Saber Pungli Sragen Jadi Harapan

296
BAGIKAN

1810-pungli

SRAGEN – Terbongkarnya praktik suap jual beli jabatan di Klaten baru-baru ini rupanya membuat sejumlah kalangan pejabat di Sragen juga ketar ketir.

Meski tak secara vulgar, sejumlah pimpinan Satker berharap ada pengetatan sistem pengawasan untuk mengikis kewajiban setoran ke “atasan” yang selama ini dianggap seolah sudah membudaya.

Keresahan itu salah satunya dibeberkan oleh Kepala Puskesmas Gesi, Agus Supriyanto saat menyampaikan unek-uneknya ketika menghadiri pengukuhan Tim Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Kabupaten Sragen di Pendapa Rumdin Bupati, Jumat (20/1/2017).

Di hadapan Bupati, Wabup dan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompida) serta tim Saber Pungli, Agus mengaku, sudah risih dengan budaya setoran yang selama ini banyak didengar.

“Saya wis gilo karena cara wong njaluk ngono wis terang-terangan. Kadang-kadang kami-kami di bawah ini yang sulit. Mudah-mudahan Bu Bupati dengar, sehingga ke depan saya tidak mendengar lagi harus ada jatah untuk omah etan, omah tengah dan omah kulon,” ujarnya disambut aplaus dari puluhan pejabat eselon dan pimpinan Satker yang hadir.

Namun ia tidak menyebutkan makna omah kulon, omah tengah dan omah etan sebagai sasaran setoran tersebut.

Ia hanya menegaskan, bahwa adanya jatah setoran untuk ketiga “omah” itu akan sangat membebani bawahan utamanya pimpinan Satker di bawah.

Menurutnya, budaya setoran itu juga akan mempersulit kinerja dan hubungan antara bawahan dengan atasan. Karena jajaran di tingkat bawah akhirnya terbebani.

Ia menyebutkan suara setoran itu misalnya ketika di awal-awal tahun di mana Satker di bawah butuh anggaran operasional akan tetapi belum ada dukungan dana karena masih harus menunggu penetapan anggaran.