JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Ini Cara Mengatasi Fenomena Bunuh Diri

Ini Cara Mengatasi Fenomena Bunuh Diri

137
BAGIKAN
Dok
Johan Wahyudi
Guru SMP Negeri 2 Kalijambe, Sragen

 Prihatin, itulah ungkapan yang paling tepat untuk mengungkapkan perasaan atas informasi tingginya angka bunuh diri di Bumi Sukowati, Sragen. Bagaimana tidak, sebagaimana dimuat Koran Joglosemar (Senin, 30 Januari 2017), angka bunuh diri di Sragen sangat tinggi. Pada 2014 dan 2015, terjadi 10 kejadian bunuh diri. Pada 2016, naik menjadi 11 orang. Hanya pada bulan Januari 2017 atau awal tahun ini saja, telah terjadi 4 kasus.

Kita sangat prihatin karena kasus bunuh diri ini hanya disebabkan oleh faktor ekonomi dan depresi. Faktor kemiskinan telah dijadikan alasan untuk melakukan jalan pintas mengakhiri hidup. Jelas cara ini sangat miris dan teramat disayangkan.

Jika menelisik penyebabnya ini, kita dapat merunut akar masalah, bahwa rerata masyarakat sepertinya masih belum menerima keadaan atau kemampuan dirinya. Masyarakat masih merasa terbebani oleh tingginya biaya hidup. Namun, benarkah akar masalahnya adalah faktor ekonomi saja?

Sepertinya alasan ekonomi itu tidak dapat dijadikan satu-satunya alibi untuk membenarkan tindakan bunuh diri. Ekonomi setiap orang berbeda-beda karena kemampuan produktivitas pun berbeda pula. Pekerjaan bisa ditiru, tetapi penghasilan jelas takkan sama. Jadi, faktor ekonomi tak dapat dijadikan alasan pembenaran. Lalu, selain alasan ekonomi, apa alasan seseorang bunuh diri?

Terdapat empat alasan lain selain bunuh diri, yakni gaya hidup, rendahnya pendidikan, tipisnya keimanan, dan putus asa. Pertama, faktor gaya hidup.

Tak dapat dipungkiri bahwa zaman telah berubah sehingga semua orang dituntut untuk mengikuti perubahan itu. Nah, jika perubahan itu terletak pada budaya konsumtif, banyak orang belum siap menerima keadaan.