JOGLOSEMAR.CO Daerah Boyolali Empat Desa di Boyolali Kembangkan Jahe Organik

Empat Desa di Boyolali Kembangkan Jahe Organik

141
BAGIKAN
ilustrasi jahe
ilustrasi jahe

BOYOLALI—Empat desa di Kecamatan Ampel dan Musuk mulai mengembangkan komoditas jahe organik.

Empat desa tersebut yakni Desa Banyuanyar, Selondoko, dan Ngargosari, Kecamatan Ampel. Satu desa lainnya yakni Desa Kebon Gulo, Kecamatan Musuk.

Kabid Tanaman Produksi Tanaman Padi dan Hortikultura (PTPH) Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Boyolali sebelum perubahan organisasi pemerintah daerah (OPD), Supadi mengatakan, dengan pertimbangan potensi ekonomis yang lebih tinggi, maka untuk empat desa tersebut mulai dikembangkan jahe organik.

Pengembangan dilakukan dengan membuat klaster pengembangan kawasan jahe, yang diharapkan dapat terus diperluas.

“Mulai tahun kemarin, kelompok tani di sana dilakukan pendampingan, yakni perlakuan khusus dengan proses organik yang hasilnya memiliki nilai ekonomi dan nilai jual yang lebih tinggi,” ungkap dia.

Dijelaskan lebih lanjut, pengembangan jahe organik ini merupakan salah satu program pemerintah pusat. Jenis organik ini dinilai memiliki prospek yang cukup baik, seiring dengan berkembangnya industri obat-obatan herbal. Sehingga budidaya jahe organik ini yakni untuk suplai ke industri kesehatan, sebagai sumber tanaman obat atau biofarmaka.

Pengembangan lebih lanjut, diakui Supadi pihaknya masih menunggu hasil produksi dari desa-desa yang dijadikan percontohan ini.

Setidaknya butuh waktu dua tahun untuk pengembangan jahe organik. Di antaranya hingga dapat tersertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Pangan Organik (LSPO).

“Setelah adanya sertifikasi, pangsa pasarnya nanti juga harus khusus dan bukan pasar bebas, supaya harganya lebih baik,” jelas dia.

Saat ini, harga pasaran untuk jahe biasa mencapai Rp 8.000 hingga 10.000/kg. Dengan perlakuan khusus atau sistem organik, harganya diharapkan akan jauh lebih baik. Pihaknya meminta agar petani berkomitmen menerapkan sistem organik ini.

Sehingga diharapkan petani benar-benar tidak menggunakan bahan kimia untuk obat-obatan dan sebagainya. Sehingga nantinya budidaya jahe benar-benar bebas kimia, dan mudah mendapatkan sertifikat LSPO.

Ario Bhawono