JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini Film Widji Thukul dan Janji Jokowi, Apa Janjinya?

Film Widji Thukul dan Janji Jokowi, Apa Janjinya?

76
BAGIKAN
2401 - Wiji
Ilustrasi
0208 - TRISNO YULIANTO
Trisno Yulianto
PNS di Bapermas Magetan Warga Puro Asri Sragen

Film biografi aktivis-penyair Wiji Thukul yang pada awalnya diprediksi tidak akan menarik animo penonton, ternyata cukup diminati oleh masyarakat. Film Besutan Sutradara muda Yoseph Anggi Noe dengan pemain seperti Melani Subono, Gunawan “Cindhil” Maryanto, mendapatkan apresiasi luas dari masyarakat. Jatah 19 layak di 15 Kota akhirnya ditambah untuk menampung antusiasme penonton film nasional.

       Film Wiji Thukul yang mengambil judul yang puitik ,”Istirahatlah Kata-Kata”, yang sebenarnya merupakan produksi tahun 2016 dan telah ditayangkan dalam Festival-festival film di beberapa Negara di Eropa  menjadi alternatif tematik film nasional. Beberapa tahun terakhir film nasional yang laris di pasar adalah film bertema “cinta religi”, “Komedi situasi”, biografi tokoh bangsa dan drama romantika remaja. Hanya satu dua film yang mengambil tema pendidikan bagi anak yang mampu menggaet dukungan penonton.

     Mengapa film ‘Istirahatlah Kata-Kata” disebut film dengan tema alternatif? Karena Film yang menokohkan sosok penyair “cedal” Wiji Thukul memiliki keunikan tersendiri. Wiji Thukul dalam panggung gerakan mahasiswa-rakyat era 90an bukan tokoh sentral, meskipun sajak dan lirik syair Thukul sering dijadikan bahan bakar penyemangat ritus gerakan protes mahasiswa.  Wiji Thukul adalah seniman rakyat yang dibentuk oleh dialektika perjuangan melawan kediktatoran Orde Baru. Wiji Thukul yang seniman “estetis” di bawah geliat aktivitas berkesenian di TBS bertransformasi menjadi seniman “progresif” dengan bergabung dalam komite aksi mahasiswa/buruh. Thukul adalah penyair yang bergerak dalam gelombang massa menuntut keadilan sosial.

        Peran Wiji Thukul di era pertengahan 90an adalah propagandis gerakan. Bahkan setelah keluar dari persembunyian (pelarian) Paska Kudatuli 27 juli 1996 Thukul bersama Margiyono menjadi “otak” dari penerbitan ‘Koran Pembebasan”, organ sentral organisasi anti orde baru PRD. Bernama samaran Aloysius, Thukul menulis puisi-puisi pembangkit semangat aktivis gerakan kaum miskin. Syang episode “perjuangan” Thukul mendidik masyarakat melalui media bawah tanah tidak ternarasikan dalam film berdurasi 1 jam 45 menit tersebut.

       Film “Istirahatlah Kata-Kata” adalah film berkualitas festival yang sukses menembus pasar film nasional, bahkan jauh lebih sukses dibanding film-film festival garapan Garin Nugroho. Unsur alternatif dari Film Wiji Thukul tersebut adalah pengingatan sejarah. Pengingatan narasi hak azasi manusia yang selama ini dikandaskan oleh kepentingan kompromi kekuasaan.  Film Wiji Thukul sangat kental dengan lakon dramatik yang estetik, dan sangat berbeda dengan film semacam ‘Marsinah” yang tidak begitu menarik perhatian publik.