JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Heboh, 13 Orang Bapak di Sragen Cabuli Anaknya

Heboh, 13 Orang Bapak di Sragen Cabuli Anaknya

805
BAGIKAN
pencabulan
Ilustrasi

SRAGEN– Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang terjadi di Sragen tak hanya didominasi oleh pacar atau orang asing. Pasalnya data yang terekam di Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) mencatat setidaknya ada 13 bapak di Sragen yang tega mencabuli anak kandung maupun anak tirinya.
Ironisnya lagi, dua dari 13 korban pencabulan itu hamil akibat perbuatan bejat orang tuanya. Hal itu terungkap saat APPS memberikan bantuan kepada IK (14) siswi kelas I
SMP asal Kecamatan Sambirejo yang dicabuli ayah tirinya sejak usia 9 tahun hingga kini hamil 8 bulan, Rabu (11/1/2017).
Koordinator APPS, Sugiarsi mengatakan, dari 13 kasus inses itu, delapan di antaranya dilakukan oleh bapak kandung dan lima sisanya pelakunya adalah bapak tiri. Dari belasan kasus itu, dua korban di Sukodono dan Sambirejo, diketahui hamil.
“Itu catatan dari kasus kekerasan seksual pada anak yang dilakukan baik oleh bapak kandung maupun bapak tiri. Memprihatinkan memang,” ujar Sugiarsi saat menyerahkan bantuan popok dan perangkat bayi untuk IK, yang kini ditampung di rumah Jogoboyo Jambeyan, Hariyanto.
Sugiarsi mengecam keras perbuatan bapak kandung maupun tiri tersebut. Terlebih, kasus yang dialami IK, adalah anak yatim piatu, dan kini harus menanggung aib buah perbuatan bejat bapak asuhnya. Karenanya ia akan mengawal kasus itu hingga tuntas, seperti kasus-kasus lain yang sudah tuntas dan rata-rata orang tua pelaku dihukum berat.
“Korban ini sudah yatim piatu, dan tragisnya ia dipaksa melayani ayah tirinya sejak kelas 6 SD sampai usia 14 tahun dan korban sampai hamil,” ungkapnya.
Selain bantuan perlengkapan bayi, kemarin APPS bersama psikolog Duta Amanah Indonesia, Dewi Novita Kurniawati juga memberikan bantuan terapi psikis kepada IK dan beberapa korban kekerasan lainnya, termasuk korban kenakalan remaja yang selama ini ditampung di rumah hariyanto.
“Kami berharap pemerintah bisa terbuka dengan fakta memprihatinkan ini. Kami sendiri juga akan dampingi korban, kami akan berikan terapi khusus untuk mengembalikan kondisi psikologi korban biar bisa survive,” jelasnya.
Sementara itu Petugas Dinas Sosial yang juga turut mendampingi APPS saat mengunjungi korban, Handoko menyampaikan apresiasinya kepada APPs yang selama ini sudah peduli terhadap kasus-kasus tersebut. Selama ini APPS sudah menjadi mitra kerja dari Dinsos. “Semoga proses hukum kasusnya bisa segera selesai,” ucapnya. Wardoyo