JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Heboh “Manusia Kayu” asal Kedawung, Sragen. Penderitaannya Bikin Merinding dan Trenyuh…

Heboh “Manusia Kayu” asal Kedawung, Sragen. Penderitaannya Bikin Merinding dan Trenyuh…

8688
BAGIKAN
MANUSIA KAYU- Kondisi Ginem (kanan) yang oleh warga dikenal dengan istilah manusia kayu saat bersama neneknya di rumahnya di Selorejo, kedawung, Sabtu (7/1/2017). Joglosemar/yok
MANUSIA KAYU- Kondisi Sulami (kanan) yang oleh warga dikenal dengan
istilah manusia kayu saat bersama neneknya di rumahnya di Selorejo,
kedawung, Sabtu (7/1/2017). Joglosemar/yok

SRAGEN – Hanya berawal dari luka biasa, berubah menjadi petaka. Begitulah kisah derita yang dialami oleh Sulami (35), warga Dukuh Selorejo, RT 31/11, Desa mojokerto, Kecamatan Kedawung Sragen.

Karena ketidaktahuannya, luka kecil di tubuhnya yang terus digaruknya justru membuat sekujur tubuhnya tiba-tiba kaku hingga mirip kayu.

Itulah riwayat sampai akhirnya beberapa warga dan pemerhati yang mengetahuinya menyebutnya dengan istilah manusia kayu.

Kabar keberadaan manusia kayu itu kini memang membuat heboh warga Sragen. Sejak diunggah ke media sosial dua hari lalu, informasi tentang penderitaan Sulami mendadak menjadi perbincangan dan mengundang keprihatinan banyak kalangan.

Menurut salah satu pegawai di Dinas Sosial Sragen, Suyono, Sabtu (7/1/2017), melihat kondisi Sulami memang amat memprihatinkan.

Tidak hanya kondisi ekonominya yang miskin, derita yang dialaminya juga membuat banyak orang merinding mendengarkan.

“Ceritanya sekitar 8 tahun lalu ia punya luka di tubuhnya. Sebenarnya sudah mau sembuh tapi belum begitu kering. Olehnya luka itu digaruk-garuk terus. Nggak tahunya malah salah kedaden. Dari lukanya itu keluar cairan terus menerus sampai nggak bisa nempel. Akhirnya tubuhnya berubah menjadi kaku dan sekujur tubuhnya nggak bisa digerakkan. Bisanya hanya berdiri itupun pakai tongkat kayu,” papar Suyono kepada Joglosemar, Sabtu (7/1/2017).

Fenomena yang diderita Sulami itu memang termasuk langka. Yang bersangkutan sendiri juga tak pernah mengira jika garukan yang dilakukannya delapan tahun silam itu bakal berdampak fatal.

Luka yang harusnya hampir sembuh dan mengering justru menjalar ke sekujur tubuh hingga kemudian membuat saraf tulang belakangnya terdampak.

Menurut Suyono, sejak 2008, Sulami harus pasrah menerima takdir hidup dengan tubuh kaku tak bisa digerakkan.

Selama itu pula, perempuan yang hidup dalam serba keterbatasan itu hanya bertumpu pada tongkat kayu lantaran tubuhnya tak bisa lagi digunakan untuk duduk.