JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Jalan Terjal Menuju Kebebasan Merayakan Imlek di Solo

Jalan Terjal Menuju Kebebasan Merayakan Imlek di Solo

56
BAGIKAN
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
PERAYAAN IMLEK 2017- Warga menyaksikan pesta kembang api saat perayaan malam Tahun Baru Imlek di kawasan Pasar Gede, Solo, Sabtu (28/1). Pesta kembang api pada perayaan Imlek tersebut sebagai tanda melepas tahun shio monyet api sekaligus menandai datangnya tahun shio ayam api.

Tahun baru Imlek sekarang sudah banyak diperingati dan dirayakan di setiap sudut negeri ini.

Tak hanya etnis Tionghoa yang ikut serta merayakannya. Bahkan, perayaan tahun baru Imlek seolah sudah ditunggu oleh banyak kalangan.

Kemeriahannya juga seolah setiap tahun ditunggu, dengan barongsai dan liong seolah menjadi hal yang khas dan banyak dinikmati berbagai kalangan.

Perayaan kemeriahan Imlek ini tentu saja bukan hal yang serta-merta ada. Butuh perjuangan untuk bisa secara bebas merayakannya.

Ketua Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), Martono Hadinoto menjelaskan, Imlek bisa dirayakan secara terbuka sejak era reformasi.

Sebelumnya, perayaan Imlek hanya dirayakan secara tertutup di dalam keluarga etnis Tionghoa saja.

Namun, sejak era reformasi terutama saat era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), perayaan Imlek  bisa dilakukan secara terbuka.

“Dahulu memang hanya dirayakan di kalangan keluarga sendiri saja. Setelah era reformasi baru perayaan bisa dilakukan secara terbuka,” katanya kepada Joglosemar, Jumat (27/1/2017).

Dikatakan, sebenarnya perayaan Imlek ini hanya berupa perayaan pergantian tahun. Dahulu di China, tahun baru Imlek adalah pertanda pergantian musim dari musim dingin ke musim semi.

Pada pergantian musim ini masyarakat di sana mulai bekerja kembali setelah sebelumnya aktivitas mereka terbatas lantaran adanya musim dingin yang terjadi.