JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Kasus Kekerasan Seksual di Boyolali Tahun 2016, Dukun Cabul Paling….

Kasus Kekerasan Seksual di Boyolali Tahun 2016, Dukun Cabul Paling….

175
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

BOYOLALI-Tercatat sebanyak 47 kasus terkait perempuan dan anak, sepanjang 2016 lalu. Mayoritas, kasus pencabulan dan persetubuhan dibarengi kekerasan dengan korban anak. Satu kasus yang cukup menarik yakni munculnya dukun cabul dengan banyak korban di wilayah Mojosongo, tengah tahun lalu.
Ke-47 kasus yang ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reskrim Polres Boyolali itu, sebanyak 23 kasus terkait perlindungan anak. Sedangkan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sebanyak 17 perkara.
“Mayoritas kasus KDRT dilakukan oleh suami,” ujar Kapolres Boyolali, AKBP M.Agung Suyono, melalui Kasatreskrim, AKP Miftakul Huda, akhir pekan lalu.
Sementara itu, sepanjang 2016 juga terdapat satu kasus yang mendapat perhatian khusus, yakni kasus munculnya dukun cabul di wilayah Mojosongo. Menurut AKP M. Huda, kasus itu terjadi di pertengahan tahun 2016 dan korbannya yang cukup banyak.
Modusnya, pelaku menyasar pasangan suami istri yang lama tidak dikaruniai anak. Korban (istri) kemudian diajak melakukan ritual-ritual yang tidak senonoh hingga kemudian sang dukun menipu korban dengan menyebut sudah berhasil hamil.
“Padahal dari sisi medis tidak hamil, hanya memang perutnya membesar tapi rahimnya kosong,” jelas Huda.
Selain kasus-kasus di atas, menurut AKP M. Huda, juga terdapat kasus pidana dengan pelaku yang masih berstatus anak-anak. Kasus yang paling banyak muncul yakni kasus pencurian, yakni sebanyak empat kasus dengan pelaku masih di bawah umur.
Sementara itu terkait tingginya kasus terkait perlindungan perempuan dan anak, AKP M. Huda menegaskan pihaknya terus melakukan upaya untuk menekan potensi tindak kejahatan yang melibatkan perempuan dan anak. Salah satunya yakni dengan gencar melakukan sosialisasi, baik ke sekolah-sekolah maupun ke kelompok PKK.
Langkah tersebut dilakukan dengan bekerja sama dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TPPA) yang ada di Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Boyolali.
Khusus untuk pelaku kejahatan yang masih anak-anak, pihaknya juga bekerja sama dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas) terkait proses peradilan anak atau diversi. Namun, diversi ini baru bisa dilakukan jika ancaman hukuman atas tindak pidana yang dilakukan anak tersebut di bawah tujuh tahun.  # Ario Bhawono