JOGLOSEMAR.CO Foto Kemeriahan HUT Pasar Gede, Ini Filosofi dari Kirab 87 Tumpeng

Kemeriahan HUT Pasar Gede, Ini Filosofi dari Kirab 87 Tumpeng

23
BAGIKAN
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias HUT 87 PASAR GEDE - Pedagang dan warga mengikuti kirab tumpeng "Kembul Agung" memperingati HUT Ke-87 Pasar Gede di Solo, Kamis (12/1). Pasar yang dibangun pada 1930 oleh arsitek Belanda Herman Thomas Karsten atas perintah Paku Buwono X tersebut hingga saat ini masih menjadi salah satu pusat perekonomian di Kota Solo.
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
HUT 87 PASAR GEDE – Pedagang dan warga mengikuti kirab tumpeng “Kembul Agung” memperingati HUT Ke-87 Pasar Gede di Solo, Kamis (12/1/2017). Pasar yang dibangun pada 1930 oleh arsitek Belanda Herman Thomas Karsten atas perintah Paku Buwono X tersebut hingga saat ini masih menjadi salah satu pusat perekonomian di Kota Solo.

Pemandangan tak biasa terlihat di depan Pasar Gede, Kamis (12/1/2017). Biasanya di kawasan tersebut, hanya terlihat aktivitas jual beli, tapi tidak dengan pagi kemarin.

Puluhan perempuan keluar dari pasar sambil membawa tumpeng yang diletakan di kepala. Tampak di sana sosok Hanoman yang selalu mengawal keberadaan perempuan-perempuan tersebut.

Ya sekelumit cerita ini merupakan gambaran peringatan ulang tahun Pasar Gede Hardjonagoro atau yang sering dikenal dengan Pasar Gede dengan mengambil tema Kembul Agung.

Tepat, Kamis (12/1/2017) kemarin, salah satu pasar tradisional yang masih eksis di Kota Solo ini berusia 87 tahun.

Tumpeng yang dibawa para pedagang hingga buruh gendong Pasar Gede. Jumlah tumpengnya pun tak sembarangan, yakni ada 87 tumpeng.

Joglosemar | Insan Dipo Ferdias HUT 87 PASAR GEDE - Pedagang dan warga mengikuti kirab tumpeng "Kembul Agung" memperingati HUT Ke-87 Pasar Gede di Solo, Kamis (12/1). Pasar yang dibangun pada 1930 oleh arsitek Belanda Herman Thomas Karsten atas perintah Paku Buwono X tersebut hingga saat ini masih menjadi salah satu pusat perekonomian di Kota Solo.
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
HUT 87 PASAR GEDE – Pedagang dan warga mengikuti kirab tumpeng “Kembul Agung” memperingati HUT Ke-87 Pasar Gede di Solo, Kamis (12/1). Pasar yang dibangun pada 1930 oleh arsitek Belanda Herman Thomas Karsten atas perintah Paku Buwono X tersebut hingga saat ini masih menjadi salah satu pusat perekonomian di Kota Solo.

Setelah dikirab mengelilingi kawasan pasar, tumpeng tersebut dibagikan kepada masyarakat.

Uniknya, meski saat itu perayaan berlangsung, namun aktivitas tawar menawar tetap berlangsung di sana.

Dalam kesempatan tersebut, tampak Kepala Dinas Perdagangan Subagyo, Kapolsek Jebres Kompol Edison Panjaitan dan pejabat daerah lainnya ikut hadir

“Kegiatan ini, merupakan wujud syukur pedagang atas keberadaan Pasar Gede yang sampai saat ini masih menjadi pasar tradisional ditengah gempuran pasar modern,” jelas Wiharto selaku Koordinator Komunitas Pedagang Pasar Gede (Komppag).

Joglosemar | Insan Dipo Ferdias HUT 87 PASAR GEDE - Pedagang dan warga mengikuti kirab tumpeng "Kembul Agung" memperingati HUT Ke-87 Pasar Gede di Solo, Kamis (12/1). Pasar yang dibangun pada 1930 oleh arsitek Belanda Herman Thomas Karsten atas perintah Paku Buwono X tersebut hingga saat ini masih menjadi salah satu pusat perekonomian di Kota Solo.
Joglosemar | Insan Dipo Ferdias
HUT 87 PASAR GEDE – Pedagang dan warga mengikuti kirab tumpeng “Kembul Agung” memperingati HUT Ke-87 Pasar Gede di Solo, Kamis (12/1). Pasar yang dibangun pada 1930 oleh arsitek Belanda Herman Thomas Karsten atas perintah Paku Buwono X tersebut hingga saat ini masih menjadi salah satu pusat perekonomian di Kota Solo.

Wiharto tak menampik, jika sampai saat ini, Pasar Gede masih menjadi ikon dan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Selain itu, pasar Gede juga bagian dari heritage Kota Solo.